New Policy: Ketika kota menjadi ruang sembuh

Ketika kota menjadi ruang sembuh

Pagi ini, acara yang digelar di Halaman Balai Kota Surabaya bukan hanya sekadar upacara perayaan. Dalam rangkaian peringatan Hari Jadi Kota Surabaya ke-733, pengembangan konsep baru kota mulai terlihat. Surabaya kini tidak hanya mengutamakan posisinya sebagai pusat perdagangan dan jasa, tetapi juga mencoba menjadi salah satu simpul layanan kesehatan berkualitas tinggi secara internasional melalui program Medical Tourism yang terpadu.

Konsep ini mengusung gagasan sederhana namun ambisius: proses penyembuhan tidak lagi terpisah dari kebutuhan lain. Mulai dari saat pasien tiba di bandara hingga akomodasi keluarga dan akses ke wisata, seluruh tahapan dirancang dalam satu sistem layanan yang menyeluruh. Kota ini saat ini membangun kerja sama dengan delapan rumah sakit yang telah mendapat sertifikasi Medical Tourism dari Kementerian Kesehatan. RSUD Dr Soetomo, RSUD Dr Soewandhi, RS Universitas Airlangga, RS Husada Utama, RS Siloam Surabaya, RS Ubaya, RS Katolik St Vincentius a Paulo, dan RS Premier Surabaya menjadi bagian dari ekosistem ini. Masing-masing rumah sakit memiliki spesialisasi unik, mulai dari kardiologi hingga layanan terapi lanjutan.

Dalam desain terpadu ini, pasien dari luar kota hingga luar negeri dapat memilih paket layanan yang mencakup estimasi biaya, fasilitas medis, dan kebutuhan pendamping. Ini menandai pergeseran signifikan, di mana kesehatan tidak hanya dianggap sebagai sektor sosial, tetapi juga diintegrasikan ke dalam industri jasa yang berkembang bersama pariwisata dan ekonomi lokal.

Surabaya sebenarnya sudah menggelar rencana ini sejak beberapa tahun lalu. Kerja sama lintas sektor, seperti universitas, asosiasi rumah sakit, dan pelaku perjalanan, telah membantu mewujudkan infrastruktur pendukung. Namun, program Medical Tourism kini lebih terukur dan operasional, dengan target yang jelas serta sistem yang lebih terpadu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *