Topics Covered: Rupiah & IHSG Masih Suram, Sulit Bangkit Karena “Dihadang” Trump

Rupiah & IHSG Masih Suram, Sulit Bangkit Karena “Dihadang” Trump

Pasar keuangan Indonesia kembali berada di zona merah pada Kamis (23/4/2026). Bursa saham serta nilai tukar rupiah sama-sama melemah. IHSG tercatat mengalami penurunan signifikan, ditutup pada 7.378,61 dengan mengalami penurunan 163 poin atau -2,16%.

Pada hari itu, 505 saham mengalami penurunan, 192 naik, dan 123 tetap stagnan. Transaksi pasar mencatatkan Rp 20,5 triliun, melibatkan 54,2 miliar saham dalam 3,08 juta transaksi. Kapitalisasi pasar turun menjadi 13.180 triliun, sementara asing mencatatkan penjualan bersih Rp 978,65 miliar.

Kinerja Saham Terpimpin oleh Beberapa Perusahaan

Di tengah penurunan pasar, beberapa saham tercatat sebagai peningkat terbesar. PT Kobexindo Tractors Tbk (KOBX) mengalami kenaikan 34,43% ke Rp246, PT Maxindo Karya Anugerah Tbk (MAXI) naik 33,96% ke Rp71, dan PT Sekar Bumi Tbk (SKBM) terbang 25,00% ke Rp800.

Sementara itu, saham-saham yang mengalami penurunan terbesar antara lain PT Danasupra Erapacific Tbk (DEFI) yang ambles 14,96% ke Rp199, PT Formosa Ingredient Factory Tbk (BOBA) turun 14,79% ke Rp242, serta PT Indo Premier Investment Management Tbk (XIML) menyentuh 14,77% ke Rp245. Barito Renewables Energy (BREN) dan Dian Swastatika Sentosa (DSSA) menjadi pemberat utama IHSG.

BREN turun 8,7% dan menyeret IHSG ke level -17,34 poin, sementara DSSA mengalami penurunan 10,36% yang memperparah penurunan indeks sebesar -14,99 poin.

Analisis Ekonomi: Faktor Utama Penurunan Rupiah

Rupiah ditutup di level terendah sepanjang masa, Rp17.280/US$ atau turun 0,64%. Selama sesi perdagangan, mata uang Garuda dibuka dengan pelemahan 0,21% ke Rp17.210/US$ dan terus mengalami tekanan hingga akhir sesi.

David Sumual, Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA), menjelaskan bahwa pelemahan rupiah dipicu oleh sentimen negatif pasar terhadap konflik di Timur Tengah serta volatilitas harga minyak. Ia menambahkan, permintaan dolar AS di dalam negeri juga meningkat karena masuknya periode musiman pembayaran dividen.

“Selain isu harga minyak dan kondisi di Timur Tengah, ada seasonal demand juga untuk pembayaran dividen,” kata David kepada CNBC Indonesia, Kamis (23/4/2026).

Rully Arya Wisnubroto, Kepala Ekonom dan Riset Mirae Asset Sekuritas, menilai langkah Bank Indonesia dalam menstabilkan kurs menjadi faktor utama. Menurutnya, BI kini lebih hati-hati dalam melakukan intervensi di pasar valuta asing untuk mencegah cadangan devisa tergerus.

Dari sisi obligasi, imbal hasil SBN tenor 10 tahun mencapai 6,715%, level tertinggi bulan ini. Lonjakan imbal hasil menunjukkan aksi jual investor yang berdampak pada penurunan harga dan peningkatan yield.

Di bursa Wall Street, pasar keuangan AS ambruk pada Kamis atau Jumat dini hari waktu Indonesia. Penurunan terjadi di sektor perangkat lunak, sementara kenaikan lainnya juga tercatat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *