New Policy: Serangan Teror di Asia Selatan Picu Kekhawatiran Stabilitas Kawasan
Serangan Teror di Asia Selatan Picu Kekhawatiran Stabilitas Kawasan
Kemarahan terorisme yang merayap di Asia Selatan kembali memicu kecemasan terhadap perubahan dinamika keamanan regional. Dua insiden yang mencuri perhatian adalah serangan bom di Pahalgam, India, pada 22 April 2025, yang mengorbankan 26 warga sipil, serta serangan Paskah 2019 di Sri Lanka yang menewaskan 269 orang. Peristiwa-peristiwa ini menggambarkan ancaman yang tidak hanya terbatas pada satu negara, tetapi menyentuh sektor-sektor vital seperti pariwisata dan kehidupan sosial.
Kelompok Bersenjata Diduga Terkait dengan Organisasi Ekstremis Pakistan
Menurut analisis Hansa Rathnayaka, akademisi dari Sri Lanka, kedua serangan tersebut memiliki kesamaan dalam pola menargetkan masyarakat sipil. “Serangan ini menunjukkan upaya untuk menggoyahkan stabilitas sosial serta menimpa sektor pariwisata,” ujar Rathnayaka. Ia menyoroti bahwa kelompok The Resistance Front (TRF), yang dituduh terkait dengan Lashkar-e-Taiba (LeT), diduga berada di balik insiden Pahalgam. TRF juga diakui sebagai organisasi teroris oleh Amerika Serikat.
“Kedua peristiwa ini menunjukkan ancaman yang lintas batas, bukan hanya lokal,” kata Rathnayaka. “Kekhawatiran terorisme semakin menjadi isu global yang memengaruhi stabilitas kawasan.”
Dalam konteks itu, otoritas India menyebutkan bahwa pasukan keamanan telah membunuh tiga individu yang diduga terlibat dalam serangan Pahalgam, dengan identitas berasal dari wilayah Kashmir yang dikuasai Pakistan. Rathnayaka mengatakan bahwa peningkatan aktivitas pariwisata di Jammu dan Kashmir justru menjadi target untuk dihancurkan. “Serangan dilakukan saat stabilitas kawasan sedang membaik, sehingga memperlihatkan strategi yang lebih terencana,” lanjutnya.
Pakistan Jadi Basis Kelompok Ekstremis
Laporan Global Terrorism Index 2026 menunjukkan Pakistan sebagai salah satu negara yang paling terkena dampak oleh terorisme. Di sisi lain, laporan dari Congressional Research Service AS menyoroti peran Pakistan sebagai basis operasi kelompok ekstremis yang telah lama aktif. “Kemunculan organisasi seperti TRF menggambarkan evolusi struktur kelompok-kelompok ekstremis,” tambah Rathnayaka.
Perubahan metode operasional terorisme, termasuk penggunaan teknologi digital dan sistem keuangan kripto, juga menjadi isu utama. Rathnayaka menekankan bahwa peningkatan aktivitas di sektor maritim menambah kompleksitas ancaman ini. “Kemajuan teknologi memungkinkan kelompok-kelompok teroris melakukan serangan lebih efektif dan tersembunyi,” ujarnya.
Panggilan untuk Kerja Sama Internasional
Dalam konteks peningkatan ancaman terorisme, Rathnayaka menyerukan perlunya kerja sama lintas negara. “Peristiwa di Sri Lanka dan India membuktikan bahwa terorisme tidak hanya lokal, tetapi memiliki dampak global,” lanjutnya. Ia menambahkan bahwa keberhasilan mengatasi ancaman ini bergantung pada koordinasi internasional untuk melindungi masyarakat sipil dan menjaga stabilitas kawasan.