Topics Covered: Biodiesel B50 Bakal Terbit 1 Juli 2026, Berapa Harganya? Ini Kata ESDM
Biodiesel B50 Siap Diluncurkan 1 Juli 2026, Berapa Harganya?
ESDM Tetapkan Formula Harga Sebelum Implementasi
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sedang merancang rumus harga untuk bahan bakar biodiesel 50% atau B50. Produk BBM baru ini direncanakan akan diterapkan mulai 1 Juli 2026. Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi, mengatakan bahwa harga B50 akan tetap mengacu pada regulasi yang berlaku. Hal ini bertujuan memastikan penetapan tarif sesuai aturan yang telah ditetapkan.
“Mengikuti formula. Kalau itu mengikuti formula kan tiap bulan kita keluarkan harganya,” ujarnya saat di Stasiun Blending dan Pengisian Bahan Bakar Uji Jalan B50, Lembang, dikutip Jumat (23/4/2026).
Menurut Eniya, pemerintah akan merilis harga patokan secara bulanan. Langkah ini bertujuan memberikan kepastian bagi pelaku usaha dan masyarakat sebelum kebijakan diterapkan. “Kita sedang berhitung dengan Dirjen Migas karena prediksi hingga Desember itu kan perlu diklarifikasi karena ini kan misal ada penghematan ada pembahasan terus nih kalau yang minyak,” lanjutnya.
Peluncuran B50 Disambut Harapan Penguatan Ketahanan Energi
ESDM juga menargetkan implementasi awal B50 pada Juli 2026, mengingat dinamika energi global serta upaya meningkatkan keandalan sumber daya energi nasional. Eniya menjelaskan bahwa target pengurangan impor akan disesuaikan dengan perhitungan dari Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Ditjen Migas). “Sekarang itu serapan biodiesel kira-kira 25% sudah terserap,” tutupnya.
“Kalau itu kita menyesuaikan dengan Dirjen Migas. Target pengurangan impornya kan hitungannya 50%-nya,” ujarnya.
Berdasarkan data Kementerian ESDM, program B50 diproyeksikan mampu memberikan manfaat ekonomi signifikan bagi negara. Kebijakan ini berpotensi menghemat devisa negara hingga Rp 157,28 triliun pada 2026, naik dari target program B40 sebelumnya yang hanya Rp 140 triliun. Manfaat ini terutama berasal dari peningkatan nilai tambah minyak sawit mentah (CPO) yang dihasilkan.
ESDM sedang berkoordinasi dengan Ditjen Migas untuk menentukan rincian perhitungan komponen bahan bakar nabati, yaitu Fatty Acid Methyl Ester (FAME). Dengan proses ini, pihaknya memastikan kebijakan B50 bisa berjalan optimal, baik dari sisi fiskal maupun industri. “Pasokan tadi kan saya bilang kita sedang berhitung terus tapi cukup kalau saya prediksi cukup FAME-nya cukup,” tambah Eniya.