Main Agenda: Alasan infertilitas terasa berat bagi pasangan suami istri

Alasan infertilitas terasa berat bagi pasangan suami istri

Jakarta – Menjadi orang tua adalah hasrat yang dibawa oleh hampir semua pasangan, dan biasanya keduanya ingin berkontribusi serta merencanakan langkah terbaik untuk mewujudkan hal itu. Namun, impian ini bisa berubah menjadi kekecewaan yang mengguncang emosi, terutama jika pasangan menghadapi tantangan seperti kemandulan. Fenella Das Gupta, seorang psikoterapis trauma reproduksi yang berpraktik di California, Oregon, dan Wisconsin, menjelaskan bahwa meskipun cinta antara suami dan istri masih terjaga, situasi ini sering kali menciptakan tekanan dan pergeseran dalam hubungan.

Dalam wawancara dengan Psychology Today pada Kamis (23/4), Gupta menyatakan bahwa infertilitas membebani pasangan karena perasaan yang muncul terkesan berubah. Tidak hanya harapan untuk memiliki anak yang terganggu, tetapi juga hubungan masa depan yang diperkirakan. Stres yang timbul bisa menyebabkan kebingungan, konflik, dan munculnya pertanyaan tentang komitmen dalam hubungan.

“Infertilitas mengguncang karena munculnya perasaan yang tidak sejalan, membuat satu pihak merasa menyesal atau khawatir menghambat kebahagiaan pasangan lainnya,” ungkap Gupta.

Beberapa pasangan merasa lebih tidak aman, terutama ketika infertilitas yang sebelumnya dianggap sebagai masalah bersama tiba-tiba berubah menjadi kekurangan pada salah satu pihak. Peran dalam hubungan juga bisa bergeser, misalnya salah satu dari mereka berusaha menjadi “pengasuh” yang mengurangi emosi agar tidak menyakitkan. Hal ini memicu reaksi emosional yang kuat, baik berupa penarikan diri atau keinginan untuk melanjutkan seperti biasa.

Menurut Gupta, selama proses ini, pasangan mungkin mengalami masa di mana komunikasi berkurang, merasa kelelahan, atau sulit menyerap pengalaman. Perbedaan cara memproses infertilitas antara individu seringkali memperkuat perasaan bahwa hal ini adalah bagian dari kehidupan bersama. Meski harapan awal tentang menjadi orang tua terganggu, dunia dan sistem sosial tetap berjalan, seperti pesta perayaan kelahiran atau pembicaraan tentang anak.

Ketegangan emosional ini membentuk dinamika baru dalam hubungan, tetapi Gupta menekankan bahwa infertilitas bukanlah tanda kegagalan. Ia mengatakan, “Ini adalah tantangan bersama, bahkan ketika pengalaman dihadapi dengan cara yang berbeda. Pasangan berjuang melalui masa ini dengan cara masing-masing, namun hal itu justru menjadi bagian dari perjalanan bersama mereka.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *