Latest Program: Rekosistem perkuat ekonomi sirkular lewat skema poin dan mitra pabrik

Rekosistem Perkuat Ekonomi Sirkular Melalui Skema Poin dan Mitra Pabrik

Jakarta – Platform Rekosistem menggencarkan upaya memperkuat lingkungan ekonomi sirkular dengan menghadirkan sistem insentif poin yang menarik bagi masyarakat dan menjalin kerja sama dengan sejumlah pabrik daur ulang. Selama peresmian pusat pengolahan sampah di Stasiun MRT Blok M, Jumat, Joshua Valentino, Chief Operating Officer dan Co-Founder Rekosistem, menyampaikan bahwa satu poin setara dengan satu rupiah. Ini bertujuan untuk mendorong partisipasi masyarakat dalam memilah sampah rumah tangga.

Sistem Poin sebagai Stimulan Ekonomi

Sistem yang diterapkan memungkinkan warga mengumpulkan sampah terpisah, lalu menukarkannya menjadi poin yang bisa dikonversi ke nilai ekonomi. Joshua menjelaskan bahwa inisiatif ini bertujuan menjadikan pengelolaan sampah sebagai aktivitas bernilai. Selain itu, Rekosistem telah menetapkan kemitraan dengan sekitar 20 hingga 30 pabrik daur ulang guna memastikan bahan-bahan yang terkumpul bisa diolah menjadi bahan baku industri.

“Peran kami adalah memastikan sampah dipilah sesuai spesifikasi agar bisa masuk ke proses daur ulang di pabrik,” ujar Joshua.

Kolaborasi dengan MR.DIY untuk Keberlanjutan

Dengan meningkatnya partisipasi warga, volume sampah yang diolah Rekosistem juga mengalami peningkatan. Dari sebelumnya sekitar 1–2 ton per bulan, kini mencapai rata-rata 3–5 ton per bulan di beberapa lokasi. Melalui kerja sama dengan MR.DIY, perusahaan menyebut skema ini sejalan dengan visi bisnis berkelanjutan mereka, termasuk pengelolaan limbah dan pengembangan ekosistem daur ulang.

“Kolaborasi ini bukan hanya soal lingkungan, tapi juga bagaimana menciptakan dampak ekonomi dan sosial yang berkelanjutan,” tambah Rika Juniaty Tanzil, Chief Financial Officer MR.D.I.Y. Indonesia.

Pendekatan Insentif Efektif untuk Perubahan Perilaku

Dari sisi mitra, Muchamad Ikhsan Destian, Co-Founder Pandawara Group, menilai pendekatan berbasis insentif sangat strategis dalam meningkatkan kesadaran masyarakat. “Kalau ada nilai ekonominya, masyarakat akan lebih antusias memilah sampah. Ini langkah baik untuk mendorong perubahan perilaku,” tuturnya.

Peran Teknologi Pengolahan Lain

Rekosistem menegaskan bahwa teknologi seperti waste-to-energy tidak mengancam, melainkan melengkapi sistem pengelolaan sampah nasional. Teknologi ini berperan penting dalam menangani residu yang tidak bisa didaur ulang. Jenis sampah yang diterima meliputi minyak bekas, botol plastik, plastik lunak, plastik keras, elektronik bekas, logam, beling, kertas, serta kardus.

“Setiap sampah itu dihargai 100 hingga 6.000 poin yang bisa ditukarkan dengan uang digital,” kata Joshua.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *