Key Strategy: Video: Kebijakan “Kurang” Ramah, Industri Sepatu RI Kalah Dari Vietnam
Video: Kebijakan “Kurang” Ramah, Industri Sepatu RI Kalah Dari Vietnam
Jakarta, Di tengah dinamika ekonomi dan politik global, sektor industri sepatu dan alas kaki Indonesia masih memiliki peluang untuk berkembang. Potensi ini didorong oleh pasar yang luas, inovasi, teknologi, serta dukungan kebijakan pemerintah. Namun, tantangan terus mengemuka terutama dalam persaingan global.
Ketua Asosiasi Persepatuan Indonesia (APRISINDO), Anton J. Supit, menjelaskan bahwa industri sepatu RI tumbuh berkat peran sebagai kontraktor produksi merek global dan eksportir internasional. Meski demikian, persaingan semakin ketat dengan negara-negara seperti Tiongkok dan Taiwan, yang memiliki iklim investasi lebih menguntungkan dan kebijakan yang lebih ramah terhadap industri berbasis tenaga kerja.
Indonesia kini mengekspor sepatu senilai USD 7 miliar dari total perdagangan dunia USD 400 miliar. Angka ini menunjukkan bahwa peluang industri sepatu nasional masih besar, tidak hanya dalam meningkatkan perekonomian tetapi juga dalam menciptakan lapangan kerja. Namun, kebijakan yang kurang mendukung di sektor ini membuat daya saing RI terkikis, terutama dibanding Vietnam.
Di tengah persaingan yang sengit, pelemahan daya beli konsumen menjadi hambatan signifikan bagi bisnis persepatuan. Saat ini, pasar utama terletak di Amerika Serikat dan Eropa. Apa tantangan yang dihadapi industri ini? Bagaimana dampak konflik Timur Tengah terhadap sektor ini? Shania Alatas berdiskusi dengan Anton J. Supit dalam program Manufacture Check, CNBC Indonesia (Jum’at, 24/04/2026).
Perbandingan Kebijakan dan Daya Saing
“Industri sepatu Indonesia terus berkembang, tetapi kebijakan pemerintah yang tidak optimal justru menghambat pertumbuhan,” ujar Anton J. Supit, ketua APRISINDO.
Kebijakan yang tidak ramah terhadap industri padat karya seperti sepatu, yang terkait dengan proses perizinan dan masalah upah, membuat Indonesia kalah dari negara-negara tetangga. Dalam konteks ini, Vietnam menjadi pesaing yang lebih kuat, karena kebijakan lokalnya lebih mendukung pengembangan sektor manufaktur.