Meeting Results: Analisa Dolar AS Tembus Rp17.300, Respons BI & Ramalan Ekonomi RI
Analisa Dolar AS Tembus Rp17.300, Respons BI & Ramalan Ekonomi RI
Kondisi Ekonomi Global Menghimpit Rupiah
Tingginya ketidakpastian global memicu peningkatan nilai tukar dolar AS terhadap mata uang banyak negara, termasuk rupiah. Tiga hari terakhir, rupiah bahkan menyentuh titik terendah sepanjang masa, yakni Rp17.300 per dolar AS. Menurut Juli Budi Winantya, Direktur Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI, faktor utama penyebabnya adalah perang antara AS dan Iran yang terus memanas.
“Kondisi perang memperburuk situasi ekonomi sekarang dan ke depan,” jelas Juli dalam sesi diskusi bersama media di Bandung, Jumat (24/4/2026).
Pengaruh Perang pada Pasar Global
Konflik geopolitik tersebut mengganggu jalur distribusi logistik internasional, terutama setelah Selat Hormuz ditutup. Kenaikan harga minyak dunia yang signifikan kemudian memengaruhi biaya barang dan jasa, mempercepat kenaikan inflasi dari 4,1% ke 4,2%. Juli menyebutkan, proyeksi pertumbuhan ekonomi global juga turun dari 3,1% menjadi 3%.
Stabilitas Rupiah di Tengah Tekanan
Dalam kondisi yang tidak menentu, nilai tukar rupiah tetap dijaga dengan cukup baik dibandingkan mata uang negara lain. “Nilai tukar rupiah dibandingkan negara lain masih stabil cukup terjaga,” tegas Juli.
Merujuk data Refinitiv, rupiah hari ini ditutup di zona hijau dengan kenaikan 0,52% ke Rp17.190 per dolar AS. Penguatan ini membawa rupiah kembali turun di bawah level psikologis Rp17.200. BI mengambil langkah stabilisasi dengan mempertahankan suku bunga BI-Rate di 4,75% dan terus melakukan intervensi di pasar off-shore melalui NDF serta pasar domestik via DNDF dan pembelian SBN di sekunder.
Penyempitan Ruang Moneter Global
Kebijakan moneter global semakin tertekan akibat tekanan eksternal. Suku bunga acuan AS diperkirakan tetap stagnan hingga akhir tahun 2026, sementara belanja pertahanan AS yang meningkat memperlebar defisit anggaran dan mendorong kenaikan imbal hasil obligasi. “Ini yang membuat apresiasi dolar, DXY meningkat hampir ke semua mata uang,” papar Juli.
Di sisi lain, BI mengoptimalkan instrumen SRBI untuk mendukung stabilitas nilai tukar. Pada 21 April 2026, SRBI mencapai Rp885,41 triliun, di antaranya didorong oleh kepemilikan nonresiden sebesar Rp165,98 triliun atau 18,75% dari total outstanding. Meski situasi memanas, BI meyakinkan bahwa ekonomi nasional tetap bertahan dengan proyeksi pertumbuhan 4,9-5,7% dan inflasi terjaga 2,5 plus minus 1%.