Special Plan: Kemenkes: 10-15% Jemaah Haji Alami Gangguan Mental, Lansia Demensia
Kemenkes: 10-15% Jemaah Haji Alami Gangguan Mental, Lansia Demensia
Pemerintah Indonesia mulai mengoperasikan program perjalanan jemaah haji untuk tahun 2026 ke Tanah Suci Mekkah sejak awal pekan ini. Di tengah jumlah besar peserta yang terdaftar, salah satu tantangan utama terjadi pada kelompok usia lanjut yang menghadapi risiko kesehatan fisik dan mental. Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kemenkes, Imran Pambudi, menjelaskan bahwa sekitar 10-15 persen jemaah membutuhkan perhatian khusus terkait kondisi psikologis mereka.
Berdasarkan data dari Balai Pengobatan Haji Indonesia, lansia menjadi kelompok yang paling rentan mengalami gangguan mental, terutama gejala demensia yang ditemukan pada 80% pasien yang dirawat. Sebagai respons, Imran menyatakan bahwa Kemenkes sedang mempersiapkan pendekatan holistik untuk membantu jemaah menjalani ibadah dengan tenang. “Ibadah haji adalah puncak spiritual umat Islam, namun di balik makna religius yang mendalam, perjalanan ini juga membawa tantangan besar bagi kesehatan jiwa,” kata Imran di Jakarta, Rabu (22/4), dikutip dari Antara.
Menurut Imran, faktor-faktor seperti perubahan lingkungan, kepadatan peserta haji yang besar, serta tekanan fisik dan emosional berpotensi menyebabkan stres, kecemasan, hingga gangguan mental. Untuk mengatasi hal ini, tim kesehatan haji telah merancang beberapa strategi, termasuk konseling prakeberangkatan yang melibatkan pelatihan manajemen stres, pengaturan jadwal ibadah dengan waktu istirahat yang cukup, dan memastikan kebutuhan hidrasi serta nutrisi terpenuhi.
Kelompok usia lanjut juga diberi perhatian khusus melalui praktik relaksasi, doa, dan zikir yang terbukti menenangkan pikiran. Selain itu, dukungan sosial dari sesama jemaah membantu menciptakan rasa kebersamaan yang meredakan kecemasan. “Petugas kesehatan haji kini dilengkapi tim khusus untuk menangani masalah psikologis secara cepat agar tidak berkembang menjadi kondisi serius,” tambah Imran.
Imran menyoroti sejumlah faktor yang dapat memicu gangguan mental pada jemaah. Pertama, cuaca di Makkah yang mencapai rata-rata 35-38 derajat Celsius dengan kelembapan rendah berpotensi menyebabkan dehidrasi dan kelelahan. Kedua, aturan baru dari Pemerintah Arab Saudi terkait visa, akses ke Mekkah, serta penggunaan aplikasi digital Nusuk menambah tekanan psikologis, terutama bagi jemaah yang kurang terbiasa dengan teknologi atau takut melanggar sanksi berat.
Masalah lain termasuk kegiatan fisik intens saat menjalani rukun umrah seperti tawaf dan sa’i, serta masa kepulangan yang membutuhkan adaptasi ulang setelah pengalaman spiritual yang mendorong perubahan psikologis. Faktor-faktor seperti perbedaan budaya, keterbatasan fasilitas, dan interaksi dalam kerumunan besar juga dapat memicu rasa frustrasi dan isolasi. “Semua ini menunjukkan bahwa persiapan mental dan penataan ekspektasi menjadi sama pentingnya dengan persiapan fisik, agar jemaah mampu menerima dinamika ibadah tanpa terbebani harapan yang terlalu tinggi,” ujar Imran.
Strategi untuk Stabilkan Kesehatan Jiwa Jemaah
Dalam rangka menjaga kesehatan mental jemaah, Kemenkes menggarisbawahi perluasan pendekatan holistik yang melibatkan pelatihan manajemen stres, pengaturan jadwal ibadah, serta perhatian terhadap asupan cairan dan nutrisi. Tim khusus yang ditugaskan juga aktif memberikan dukungan psikologis cepat, terutama untuk kelompok usia lanjut yang rentan mengalami gangguan tidur akibat perubahan ritme sirkadian dan aktivitas ibadah yang padat. “Dengan kesiapan mental yang matang, ekspektasi yang realistis, disiplin mengikuti aturan, serta dukungan dari keluarga dan komunitas, ibadah haji 2026 diharapkan dapat dijalani dengan lebih tenang, khusyuk, dan penuh keberkahan,” tegas Imran.
“Ibadah haji adalah puncak spiritual umat Islam, namun di balik makna religius yang mendalam, perjalanan ini juga membawa tantangan besar bagi kesehatan jiwa,” ujarnya di Jakarta, Rabu (22/4), dikutip dari Antara. “Perubahan lingkungan, kepadatan jutaan jemaah, serta tekanan fisik dan emosional dapat memicu stres, kecemasan, hingga gangguan mental,” sambung Imran.