Main Agenda: Mendikdasmen pastikan program revitalisasi sekolah berlanjut pada 2026
Program Revitalisasi Sekolah Dijamin Berlanjut Tahun 2026
Di Purwokerto, Jawa Tengah, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti mengonfirmasi bahwa upaya memperbaiki kualitas pendidikan melalui revitalisasi dan digitalisasi sekolah akan terus berjalan pada tahun 2026. Ia mengapresiasi sekolah yang mendapat bantuan revitalisasi serta papan interaktif digital di 2025, menitip pesan agar fasilitas tersebut dimanfaatkan secara optimal untuk meningkatkan mutu pembelajaran.
Anggaran Revitalisasi Ditetapkan Rp14 Triliun
Menurut Abdul Mu’ti, revitalisasi menjadi prioritas pemerintah untuk menciptakan pendidikan berkualitas bagi seluruh wilayah Indonesia. Anggaran yang dialokasikan pada 2026 mencapai Rp14 triliun, meliputi 11.744 satuan pendidikan. Pemerintah juga mengusulkan tambahan dana agar program ini bisa mencakup hingga 60.000 sekolah, yang jika disetujui, akan menaikkan jumlah total revitalisasi lebih dari 70.000 unit.
“Anggaran pendidikan tidak dikurangi, justru ditingkatkan untuk mendukung program prioritas dan penguatan karakter peserta didik,” ujarnya.
Penguatan Digitalisasi dan Karakter Siswa
Dalam mendukung transformasi digital, pemerintah merencanakan penambahan perangkat Interactive Flat Panel (IFP) pada 2026, dengan target dua hingga tiga unit per sekolah. Alat ini berfungsi sebagai papan tulis digital, proyektor, dan komputer yang terpadu, memungkinkan interaksi nirkabel untuk kegiatan belajar-mengajar dan rapat. Selain itu, ia menekankan pentingnya pendekatan humanis dalam membangun lingkungan sekolah yang aman, sehat, dan nyaman.
PIP dan Insentif Guru Honorer
Program Indonesia Pintar (PIP) juga diperluas, dengan jumlah penerima meningkat menjadi sekitar 19,6 juta siswa, mulai dari SD hingga SMA. Untuk pertama kalinya, bantuan PIP diberikan kepada 888 ribu anak di taman kanak-kanak. Sementara itu, insentif bagi guru honorer dinaikkan dari Rp300 ribu menjadi Rp400 ribu per bulan, langsung diberikan kepada penerima.
Perkembangan di Banyumas
Seorang pejabat Dinas Pendidikan Banyumas, Amrin Ma’ruf, menyampaikan bahwa kabupaten tersebut telah mengusulkan 140 sekolah untuk revitalisasi melalui skema berbasis data pendidikan. Selain itu, ada 12 sekolah terdampak bencana yang sudah memasuki tahap kerja sama. Total kebutuhan perbaikan mencakup sekitar 165 satuan pendidikan dengan kondisi rusak sedang atau berat, terutama di jenjang SD dan SMP.
Di 2025, 13 sekolah telah resmi diresmikan, terdiri dari enam SD dan tujuh SMP. Amrin menambahkan bahwa seluruh sekolah di Banyumas, baik negeri maupun swasta, telah menerima IFP sebagai bagian dari upaya digitalisasi pendidikan.
Abdul Mu’ti juga mengingatkan bahwa penggunaan teknologi digital secara berlebihan bisa memengaruhi konsentrasi anak dan meningkatkan risiko gangguan mental. Oleh karena itu, pemerintah mendorong pembatasan akses media sosial bagi usia di bawah 16 tahun serta penguatan literasi digital di lingkungan sekolah.