Special Plan: Program MBG jadi kunci atasi kedaruratan tersembunyi dampak stunting
Program MBG Jadi Kunci Atasi Kedaruratan Tersembunyi Dampak Stunting
Ketua Persagi Tekankan Peran Pangan Bergizi dalam Pemulihan Stunting
Jakarta, Sabtu – Dodi Izwardi, Ketua Umum Persatuan Ahli Gizi Indonesia (Persagi), menegaskan bahwa implementasi program Makanan Bergizi Gratis (MBG) adalah langkah penting untuk mengatasi dampak jangka panjang stunting yang mengancam kualitas sumber daya manusia. Dalam acara dialog bertema “Dari Pangan Bergizi Menuju Kecerdasan Bangsa” yang digelar di APPMBGI National Summit 2026, Dodi menjelaskan bahwa stunting tidak hanya berkaitan dengan tinggi badan, tetapi juga menggangu potensi biologis dan produktivitas manusia sepanjang masa hidup.
“Kerusakan akibat stunting bersifat kumulatif, dan efeknya hanya terasa jelas saat memengaruhi kemampuan belajar. Satu-satunya cara untuk mengatasinya adalah melalui konsumsi makanan bergizi seimbang secara berkelanjutan, yang sekarang diwujudkan melalui program MBG,” ujarnya.
Dodi menyoroti data medis yang menunjukkan risiko penyakit degeneratif pada anak stunting yang jauh lebih tinggi saat dewasa. Berdasarkan teori Barker, ia menjelaskan bahwa kondisi ini meningkatkan kemungkinan anak stunting mengalami penyakit jantung koroner hingga 1,7 kali lipat, serta hipertensi sebesar 1,4 kali lipat akibat gangguan perkembangan ginjal pada masa kandungan. Selain itu, stunting juga berpotensi meningkatkan risiko osteoporosis hingga 2,1 kali, diabetes tipe 2 sebanyak 1,8 kali, dan gangguan mental serta depresi hingga 1,6 kali lebih sering.
Perkuatan Kompetensi Tenaga Pengawas Gizi
Dodi menekankan peran Persagi dalam mendorong kualitas program MBG. Dengan 58.000 anggota ahli gizi di seluruh Indonesia, organisasi tersebut berkomitmen memperkuat kompetensi dan sertifikasi tenaga pengawas gizi di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Sinergi dengan asosiasi pengusaha dapur, menurutnya, akan memastikan rantai pasokan dan lingkungan makan yang sehat sesuai standar transformasi pangan global.
“Indonesia telah melakukan fortifikasi, diversifikasi, dan suplementasi makanan selama bertahun-tahun. Namun, poin konsumsi bergizi secara masif dan terstruktur melalui SPPG adalah langkah baru yang belum terlaksana secara nasional,” tutur Dodi, mantan Direktur Gizi Kementerian Kesehatan.
Dalam kesimpulannya, Dodi optimis bahwa program MBG bisa mendorong pencapaian target penurunan angka stunting dan peningkatan kualitas sumber daya manusia menuju Indonesia Emas 2045, asalkan penerapan tetap konsisten dan didukung seluruh elemen masyarakat.