Key Strategy: Pembersihan Militer China Dinilai Perkuat Loyalitas ke Xi Jinping
Pembersihan Militer China Dinilai Perkuat Loyalitas ke Xi Jinping
Langkah pembersihan besar-besaran yang dilakukan oleh Presiden Xi Jinping di tubuh Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) dianggap sebagai tanda penekanan terhadap kesetiaan pribadi dalam hierarki kekuasaan. Kebijakan ini tidak hanya menangani kasus korupsi, tetapi juga bertujuan memastikan kesetiaan politik di tingkat tertinggi militer. Beberapa ahli menyatakan bahwa tindakan ini mengejutkan banyak pihak, baik di dalam maupun luar negeri.
Analisis tentang Kepatuhan Ideologis
Chandu Doddi, peneliti dari Jawaharlal Nehru University di New Delhi, menjelaskan bahwa Xi Jinping kini menempatkan loyalitas pribadi, keseragaman ideologis, dan simbol kepatuhan kepada pemimpin sebagai faktor utama dalam sistem kekuasaan. Dalam konteks ini, sikap tidak nyaman terhadap kultus kepemimpinan dapat dianggap sebagai risiko politik.
“Xi Jinping dikenal memperkuat kesetiaan pribadi dalam hierarki kekuasaan. Dalam situasi ini, bahkan ketidaknyamanan terhadap kultus kepemimpinan dianggap sebagai ancaman,” kata Doddi.
Dalam beberapa tahun terakhir, media militer China secara konsisten menekankan pentingnya kesetiaan kepada Xi sebagai pemimpin inti. Narasi resmi menegaskan bahwa anggota militer harus “mematuhi sepenuhnya sistem tanggung jawab Komisi Militer Pusat (CMC),” dengan penekanan pada ketaatan langsung kepada Xi.
Konsolidasi Kekuasaan dan Risiko Politik
Pemantauan loyalitas juga diperkuat oleh doktrin Partai Komunis China. Dalam Kongres ke-20, Pemikiran Xi Jinping ditetapkan sebagai kerangka utama partai dan negara, serta dimasukkan secara eksplisit dalam piagam partai. Hal ini membuat kepatuhan politik tidak hanya wajib administratif, tetapi juga menjadi ujian ideologis.
“Tuduhan korupsi terhadap perwira PLA memiliki fungsi lebih luas, yaitu sebagai sinyal politik bahwa loyalitas terus dipantau, dan jaringan alternatif berpotensi menjadi target,” tambah Doddi.
Analisis menunjukkan bahwa pembersihan berulang di tubuh militer dapat melemahkan faksi internal, namun sekaligus memperkuat kontrol Xi. Konsolidasi kekuasaan ini berkaitan erat dengan rasa ketidakamanan dalam sistem yang sangat terpusat. Bahkan sikap tidak eksplisit mendukung kultus kepemimpinan dianggap sebagai indikator risiko.
Kemiripan dengan Era Mao Zedong
Fenomena ini memicu perbandingan dengan masa pemerintahan Mao Zedong. Beberapa pengamat di Tiongkok dan Hong Kong mengatakan bahwa citra publik Xi menunjukkan kesamaan dengan kultus personal masa Mao, yang masih menyisakan trauma dalam ingatan institusional.
“Budaya politik elite di Tiongkok tetap menyimpan kenangan tentang dampak personalisasi kekuasaan terhadap tata kelola pemerintahan dan profesionalisme militer,” kata Doddi.
Kelompok tertentu, khususnya generasi lama dalam militer, disebut tidak sepenuhnya nyaman dengan tren ini. Meski demikian, analisis menegaskan bahwa makna utama dari tindakan pembersihan adalah pola yang menunjukkan ketergantungan pada loyalitas publik, ketaatan ideologis, dan bentuk dukungan simbolik terhadap pemimpin.