Key Discussion: Trump Berang Media AS Anggap Iran Menang Perang
Trump Berang Media AS Anggap Iran Menang Perang
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan kekesalannya terhadap media New York Times yang menilai Iran sebagai pemenang dalam perang yang sedang berlangsung. Dalam postingan di akun media sosial Truth Social miliknya, Selasa (14/4), Trump menegaskan bahwa Iran telah hancur dan menuduh pemberitaan NYT sebagai informasi yang tidak benar. “Bagi mereka yang masih menyukai The New York Times, meskipun Iran sudah benar-benar DIHANCURKAN secara militer maupun secara umum, Anda akan merasa Iran menang atau setidaknya berjalan cukup baikātapi itu salah, dan The New York Times tahu bahwa itu BERITA PALSU,” tulis Trump.
Tindakan Trump terhadap Media NYT
Trump tidak hanya mengkritik pemberitaan NYT, tetapi juga menuntut media itu meminta maaf. “Kapan media korup ini meminta maaf atas kebohongan dan tindakan mengerikan mereka terhadap saya, para pendukung, dan Negara kita sendiri? Apakah mereka tidak punya rasa malu?” ujarnya. Nyatanya, New York Times telah merilis laporan sebelumnya yang menyebut Iran menang dalam konflik dengan AS dan Israel.
“Sekadar selamat dari serangan AS-Israel sudah berarti kemenangan. Namun, benih krisis mereka berikutnya mungkin sudah ditanam,” tulis New York Times dalam ringkasan beritanya.
Konten tersebut diterbitkan pada 9 April dalam artikel berjudul Iran’s Battered Leaders Emerge From War Confident – and With New Cards. Di samping itu, NYT juga merilis video pada 3 April dengan judul What If Iran Wins This War yang membahas kemungkinan AS kalah dalam pertarungan tersebut.
Analisis dari Pakar
Direktur Program Peperangan, Ancaman Tak Teratur, dan Terorisme di Pusat Studi Strategis dan Internasional (CSIS), Daniel Byman, menyatakan bahwa Iran mampu membawa kerugian bagi AS. Strategi negara tersebut, menurut Byman, adalah bertahan, menimbulkan dampak, dan memindahkan fokus konflik ke wilayah lain. “Dengan mendestabilisasi pasar energi global, memperketat aliansi AS, dan mengungkap keterbatasan kekuatan koersif Amerika, Teheran telah memastikan bahwa bahkan kampanye yang sukses secara taktis pun mengakibatkan kerugian strategis signifikan bagi Washington,” imbuhnya.
Sebelumnya, AS dan Israel meluncurkan serangan habis-habisan terhadap Iran pada 28 Februari. Operasi ini menyebabkan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dan ribuan warga sipil terutama anak serta perempuan tewas. Iran langsung merespons dengan menyerang Israel dan aset AS di wilayah Teluk. Mereka juga menutup jalur perdagangan global, Selat Hormuz.
Setelah lebih dari sebulan perang, Iran dan AS sepakat menggelar perundingan damai, namun pembicaraan berakhir buntu. Trump kemudian mengumumkan pemblokadean Selat Hormuz bagi kapal Iran atau yang terkait dengan Iran.