Key Issue: Sehebat Apa Hantaman Blokade AS Selat Hormuz untuk Iran?
Sehebat Apa Hantaman Blokade AS Selat Hormuz untuk Iran?
Pengaruh pada Ekspor Minyak Iran
Blokade akses ke Selat Hormuz yang diterapkan AS menimbulkan dampak besar terhadap perdagangan minyak Iran. Rute ini menjadi jalur utama pengiriman minyak mentah dan gas, dengan sekitar 80% total ekspor negara tersebut melalui selat ini. Pasokan minyak dunia sekitar 20% diangkut melalui jalur tersebut, sehingga penutupannya langsung memengaruhi harga minyak global. Saat Iran memutus jalur perdagangan, kapal asing dan kapal Iran yang melintas bisa dibalikkan oleh pasukan tempur AS ke Teluk Persia atau Teluk Oman.
Dikutip dari Aljazeera, data Kpler menunjukkan Iran mengirim 1,84 juta barel minyak per hari pada Maret 2026, 1,71 juta barel per hari di April, serta rata-rata 1,68 juta per hari selama 2025. Total ekspor minyak dari 15 Maret hingga 14 April mencapai 55,22 juta barel. Dengan asumsi harga US$90 per barel, pendapatan Iran hanya dari minyak mencapai US$4,97 miliar dalam sebulan. Angka ini jauh lebih tinggi dari pendapatan US$3,45 miliar yang diperoleh sebelum perang di awal Februari.
“Iran tidak akan bisa mengekspor minyak dalam jumlah yang sama,” ujar profesor Doha, Mohamad Elmasry, kepada Al Jazeera.
Analisis juga menyebutkan blokade ini mengganggu pungutan dari perairan Selat Hormuz. Badan intelijen Windward mencatat jumlah minyak Iran di wilayah tersebut mencapai 157,7 juta barel, dengan 97,6% dikirim ke Tiongkok. Selain itu, pendapatan dari komoditi non-minyak turun, menyebabkan defisit perdagangan yang signifikan.
Pengaruh pada Komoditi Lain
Blokade AS tidak hanya menghantam ekspor minyak, tetapi juga memengaruhi pengiriman produk pertanian, petrokimia, plastik, mesin industri, elektronik, dan makanan. Komoditi-komoditi ini utamanya datang dari Tiongkok, Uni Emirat Arab, dan Turki, sehingga penutupan akses membatasi opsi perdagangan Iran. Laporan Teheran Times menyebut total perdagangan non-minyak mencapai US$94 miliar dari 21 Maret 2025 hingga 20 Januari 2026, dengan impor melebihi ekspor.
Frederic Schneider dari Middle East Council on Global Affairs menilai blokade ini merugikan perekonomian Iran secara menyeluruh. “Tekanan pada perdagangan non-hidrokarbon tidak hanya mengurangi pendapatan negara, tetapi juga memengaruhi pasokan barang dalam negeri,” katanya.
“Apakah tekanan ini akan memaksa Iran mengakui kekalahan atau justru memperkuat semangat berjuangnya?” tanya Schneider.
Rute Alternatif dan Strategi Iran
Untuk mengurangi ketergantungan pada Selat Hormuz, Iran dan Tiongkok sedang mengembangkan jalur kereta api melalui negara-negara Asia Tengah seperti Kazakhstan, Uzbekistan, dan Turkmenistan. Rute ini diharapkan menjadi solusi darurat ketika akses laut terganggu. Meski demikian, pengaruh blokade AS masih terasa kuat, terutama dalam jangka pendek.
Banyak pengamat mengatakan Iran terbiasa dengan sanksi AS, tetapi blokade ini bisa mengakibatkan perubahan signifikan. Dengan pendapatan dari minyak naik 40% selama dua bulan terakhir, Teheran mungkin memperkuat kemampuannya dalam menghadapi tekanan ekonomi. Namun, keterbatasan akses laut tetap menjadi tantangan utama bagi ekspor komoditi lain.