Special Plan: KEK Industropolis Batang siapkan dry port untuk koneksitas logistik
KEK Industropolis Batang Siapkan Dry Port untuk Meningkatkan Konektivitas Logistik
Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Industropolis Batang di Jawa Tengah sedang menggarap pembangunan pelabuhan daratan (dry port) serta fasilitas pendukung lainnya guna meningkatkan akses logistik di wilayah tersebut. Proyek ini diharapkan bisa memperkuat jaringan transportasi dan menghubungkan berbagai sektor industri secara efisien.
Integrasi dengan Konsep TOD
Direktur Utama Kawasan Industri Terpadu Batang (KITB), Ngurah Wirawan, mengatakan pembangunan dry port akan diintegrasikan ke dalam konsep Transit Oriented Development (TOD). Lokasi proyek diperkirakan menempati area sekitar 50 hektare, yang berpotensi menjadi pusat distribusi logistik strategis.
“Pembangunan dry port di KEK Industropolis Batang saat ini memasuki fase peletakan batu pertama. Proyek ini dikerjakan bersama PT Kereta Api Indonesia dan Pelindo untuk memastikan konektivitas logistik yang optimal,” ujarnya.
Pengembangan Kota Terpadu dan Pariwisata
Ngurah Wirawan menambahkan, KEK Industropolis Batang dirancang bukan hanya sebagai pusat industri, tetapi juga sebagai kota yang nyaman untuk hunian. Tujuan ini sejalan dengan upaya pemerintah mengembangkan sektor pariwisata, termasuk pembangunan lapangan golf 27 lubang yang ditargetkan siap digunakan dalam tiga sampai empat tahun ke depan.
“Batang bukan sekadar kawasan industri, tapi kami rancang sebagai kota lengkap yang bisa dihuni dan digunakan untuk beraktivitas,” terangnya.
Pengembangan Waterfront City dan Pulau Buatan
Di sisi lain, KEK Industropolis Batang juga tengah mengeksplorasi pembangunan waterfront city. Proyek ini akan dilengkapi dengan pembuatan pulau buatan untuk melindungi pelabuhan dari gelombang laut, sebagai alternatif dari konstruksi breakwater tradisional.
“Kami sedang mengajukan izin reklamasi untuk membangun dua pulau baru sebagai penghalang gelombang di masa depan,” katanya.
Dalam proses pengembangan, hingga akhir 2025 telah tercatat 39 Perjanjian Pemanfaatan Tanah Industri (PPTI) yang ditandatangani. Saat ini, 12 pabrik sudah beroperasi, sementara sekitar 20 pabrik lainnya masih dalam tahap konstruksi. Diperkirakan, kawasan ini akan menciptakan 3.000 hingga 4.000 peluang kerja baru setiap tahunnya.