Special Plan: Kepala Bapanas: Indonesia swasembada plus siap hadapi El Nino
Kepala Bapanas: Indonesia Swasembada Plus Siap Hadapi El Nino
Dari Jakarta, Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) dan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengungkapkan bahwa Indonesia telah mencapai tingkat swasembada plus, terutama pada beras, serta siap menghadapi dampak fenomena El Nino. Menurutnya, beras berperan penting sebagai indikator ketahanan pangan masyarakat. “Negara ini tidak mengimpor beras medium, artinya swasembada sempurna. Jika ada swasembada plus, ini tercapai dalam waktu 1 tahun dari rencana Presiden selama 4 tahun,” jelas Amran dalam pernyataan Jumat lalu.
Pencapaian Swasembada Pangan
Kepala Bapanas menegaskan bahwa swasembada pangan telah diraih berkat kebijakan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Swasembada sempurna tercapai ketika kebutuhan konsumsi masyarakat bisa terpenuhi sepenuhnya oleh hasil produksi dalam negeri. Saat ini, Indonesia tidak hanya swasembada pada beras, tetapi juga pada beberapa komoditas lain seperti telur, daging ayam, jagung pakan, bawang merah, dan cabai. “Presiden kita hebat. Capaian hari ini pangan aman, beras yang mendominasi. Itu karena lebih dari 50 persen konsumsi sehari-hari kita adalah beras,” tambahnya.
“Krisis pangan dunia karena El Nino, kita bisa hadapi. Indonesia alhamdulillah, negara lain waswas. Itu berkat kebijakan Bapak Presiden. Ingat, kita sudah swasembada protein dan karbohidrat,” ujar Amran.
Stok Beras Pemerintah Meningkat
Menurut data yang dikeluarkan Bapanas, stok beras yang dikelola Perum Bulog telah mencapai 4,8 juta ton per 16 April 2026. Jumlah tersebut terdiri dari Cadangan Beras Pemerintah (CBP) 4,78 juta ton dan stok komersial sebesar 19,9 ribu ton. “Alhamdulillah, stok Bulog 4,8 juta ton. Dalam waktu maksimal 1 minggu lagi, bisa mencapai 5 juta ton. Ini capaian tertinggi dalam sejarah,” kata Amran.
Bapanas juga mencatat bahwa produksi dalam negeri telah mencukupi kebutuhan konsumsi tahunan. Untuk beras, produksi 2025 mencapai 34,69 juta ton, sedangkan kebutuhan konsumsi hanya 31,16 juta ton. Di sisi lain, produksi daging ayam ras dan telur ayam ras juga melebihi kebutuhan, masing-masing mencapai 4,29 juta ton dan 6,54 juta ton. Begitu pula dengan jagung pakan, produksi 2025 sebesar 16,16 juta ton memenuhi konsumsi sebesar 15,23 juta ton.
Indeks NTP Menguat
Posisi Indonesia dalam swasembada karbohidrat dan protein terlihat dari realisasi Nilai Tukar Petani (NTP) Tanpa Perikanan. Indeks ini sejak Juli 2024 terjaga di atas 120, mencapai puncak 126,11 pada Desember 2025 dan Februari 2026. Capaian ini menunjukkan kestabilan harga pangan dan kinerja sektor pertanian yang baik.
Skor Pola Pangan Harapan (PPH) 2025 menegaskan bahwa konsumsi padi-padian masih mendominasi dengan lebih dari 50 persen, sementara konsumsi pangan hewani dan minyak-lemak masing-masing berkontribusi 12,7 persen dan 12,4 persen. Sayur, buah, gula, serta kacang-kacangan dan umbi-umbian juga terpenuhi secara lokal.