New Policy: Dino: “Middle power” pengaruhi arah perang dan perdamaian global
Dino: “Middle power” pengaruhi arah perang dan perdamaian global
Konferensi Middle Power di Jakarta
Jakarta menjadi tempat penyampaian pernyataan oleh Dino Patti Djalal, pendiri Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI), tentang pentingnya peran negara-negara dengan kekuatan menengah dalam menentukan masa depan tatanan dunia. Menurut Dino, transformasi dinamika hubungan internasional saat ini mengubah peran kekuatan besar menjadi lebih terbagi, sehingga negara-negara dengan kemampuan ekonomi dan militer sedang menorehkan dampak signifikan.
“Dunia sedang bergeser, bertransformasi, dan kita tidak tahu bagaimana proses ini akan berakhir. Namun, satu hal yang jelas adalah kelompok middle power dari utara dan selatan akan menjadi faktor utama dalam membentuk arah konflik serta perdamaian global,” kata Dino dalam acara Middle Power Conference di Jakarta, Selasa.
Contoh Konflik dan Peran Middle Power
Dino mengungkapkan bahwa perang antara Amerika Serikat dan Iran menjadi contoh nyata bagaimana middle power dapat memengaruhi hubungan antarkekuatan besar. Pakistan, salah satu negara dari kelompok tersebut, berperan sebagai mediator, sementara Arab Saudi, meskipun juga termasuk middle power, dinilai memiliki kemampuan untuk memperluas ketegangan, meski hingga kini memilih bertindak hati-hati.
Kekuatan Ekonomi dan Pertahanan
Dino juga menyoroti kekuatan ekonomi kelompok middle power, seperti BRICS (Brasil, Rusia, India, Tiongkok, Afrika Selatan), yang memiliki nilai GDP melebihi negara-negara anggota G7, yang terdiri dari negara-negara dengan ekonomi maju. Selain itu, anggaran pertahanan sejumlah negara, termasuk Korea Selatan, Arab Saudi, dan India, bahkan mengungguli beberapa negara Eropa.
“Dengan kondisi ini, dapat disimpulkan bahwa sekitar 20 negara dari utara dan selatan dunia akan memainkan peran kritis dalam menentukan bentuk tatanan global berikutnya,” tambah Dino.
Kesiapan Indonesia dalam Strategi Global
Meskipun peran middle power semakin mendapat perhatian, Dino mengakui bahwa konsistensi dan kekuatan pengaruh mereka masih bersifat sementara. Masih banyak pertanyaan tentang kemampuan negara-negara tersebut untuk bersatu, menyelesaikan konflik, dan mengambil peran kepemimpinan di sistem internasional.
Dalam konteks ini, Indonesia dianggap perlu segera memperkuat strategi sebagai negara penguasa menengah. Dino menyebutkan bahwa hubungan bilateral dengan Australia, Prancis, India, Korea Selatan, dan Turki telah menunjukkan langkah positif, yang menjadi dasar untuk mengembangkan posisi dan mitra strategis dalam dinamika global yang berubah.