New Policy: Ekonom: Dampak kenaikan harga LPG ke inflasi perlu diantisipasi
Ekonom: Dampak Kenaikan Harga LPG ke Inflasi Perlu Diantisipasi
Fakhrul Fulvian Mengingatkan Kebijakan yang Tepat untuk Mengurangi Tekanan
Fakhrul Fulvian, Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia, mengingatkan bahwa dampak kenaikan harga LPG dan BBM nonsubsidi terhadap inflasi harus diperhatikan melalui kebijakan yang matang. Menurutnya, dalam jangka pendek, kenaikan harga bahan bakar 12 kg dan BBM nonsubsidi diharapkan menyebabkan peningkatan inflasi yang tidak terlalu signifikan, sekitar 0,1-0,3 persen. Angka ini bisa berubah tergantung tingkat kenaikan harga serta kecepatan pengaruhnya pada sektor-sektor lain, khususnya transportasi dan logistik.
“Namun, tekanan tidak hanya berhenti di inflasi saja. Jika harga subsidi juga naik, dampaknya akan lebih besar, jadi semoga harga subsidi tetap stabil,” ujarnya dalam wawancara dengan ANTARA di Jakarta, Senin.
Kelas Menengah Terdampak Lebih Mendalam
Fakhrul menekankan bahwa kelompok yang paling rentan terhadap kenaikan harga energi nonsubsidi adalah kelas menengah. Mereka tidak mendapatkan bantuan sosial, namun sangat peka terhadap kenaikan biaya kehidupan, terutama di bidang transportasi dan energi rumah tangga.
“Kelas menengah menjadi bagian penting dalam struktur ekonomi modern sebagai penyerap konsumsi domestik, tetapi sering terlupakan dalam desain kebijakan,” katanya. Ia juga menyebutkan bahwa efek tambahan, seperti penurunan nilai mobil sebagai aset kelas menengah, bisa mengganggu keseimbangan neraca rumah tangga.
Pendekatan Kebijakan yang Lebih Efektif
Dari segi kebijakan, pemerintah diharapkan menerapkan pendekatan yang lebih strategis serta komunikatif. “Pertama, komunikasi kebijakan harus jelas bahwa kenaikan ini merupakan bagian dari penyesuaian struktural, bukan hanya respons jangka pendek. Kedua, perlu adanya penyesuaian khusus untuk menahan penyebaran harga, misalnya penguatan layanan transportasi umum atau insentif bagi sektor logistik,” tambahnya.
Menurut Fakhrul, bantuan sosial tetap penting, meski perlu diperbaiki dalam hal kecepatan dan akurasi distribusinya. “Bansos bisa menjadi alat bantu, tetapi tidak cukup. Kita butuh desain kebijakan yang juga menjaga daya beli kelas menengah, karena konsumsi agregat bergantung pada kelompok ini,” jelasnya.
Risiko Efek Tambahan Akibat Kondisi Global
Lebih lanjut, ia memperingatkan adanya risiko efek tambahan (second-round effect) dalam konteks geopolitik yang belum stabil. “Dengan dinamika global saat ini, terutama soal harga energi dan konflik internasional, ada kemungkinan kenaikan harga energi merambat ke harga pangan, logistik, hingga ekspektasi inflasi,” ujarnya.
Fakhrul menekankan bahwa koordinasi antara kebijakan fiskal dan moneter sangat penting untuk menjaga ekspektasi inflasi tetap terkendali, terlepas dari tekanan eksternal yang muncul dari harga bahan bakar dan faktor geopolitik lainnya.