Key Discussion: Sentuhan inovasi program MBG di Kota Malang
Sentuhan inovasi program MBG di Kota Malang
Model baru untuk makanan bergizi
Di tengah momen istirahat pelajaran di Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 2 Kota Malang, Jawa Timur, terlihat keunikan dalam penyajian program Makan Bergizi Gratis (MBG). Siswa dan siswi berjejer rapi, mengantre untuk menyantap hidangan yang disajikan secara prasmanan. Berbeda dari kebiasaan umum, MBG di sini diberikan dalam bentuk konsep buffet, dengan wadah makan dari aluminium yang rapi dan menampilkan beragam pilihan, mulai nasi, lauk, sayuran, hingga minuman.
Program MBG, yang merupakan inisiatif utama Presiden Prabowo Subianto, diaplikasikan dengan model yang tidak biasa. Di MIN 2, MBG tidak disajikan dalam wadah tepak atau dikenal sebagai ompreng. Penyajian ini mirip dengan acara pernikahan atau seremonial, dengan penekanan pada ketersediaan berbagai jenis makanan dan porsi yang sesuai kebutuhan.
Pelaksanaan pertama di momen Idul Fitri
Uji coba konsep MBG prasmanan ini pertama kali diterapkan pada acara halalbihalal atau silahturahmi usai Idul Fitri 1447 Hijriah. Kepala SPPG Sukun Gadang 2 Kota Malang, Ita Herlistyawati, menjelaskan bahwa ide ini diberikan oleh Badan Gizi Nasional (BGN) dalam rangka mengoptimalkan waktu. “Selama zoom, disarankan menyajikan MBG prasmanan karena durasinya lebih panjang,” ujarnya.
Meski siswa bisa memilih makanan secara mandiri, SPPG tetap memantau proses. Ada tim pemorsian yang ditempatkan untuk mengawasi pemilihan menu, memastikan nilai gizi tetap terjaga. Selain itu, sekolah juga menyiapkan fasilitas gedung dan sistem antrean agar tidak terjadi penumpukan.
Kolaborasi dan dukungan dari siswa
Menurut Koordinator Bidang Kesiswaan MIN 2 Kota Malang, Imam Ahmadi, sekolah menerima surat permohonan uji coba konsep MBG prasmanan dari SPPG. Mereka memberikan persetujuan dan mengatur penjadwalan agar siswa kelas 4 hingga 6 memiliki akses lebih dulu, lalu dilanjutkan siswa kelas 1 sampai 3. “Kami harus mencoba, saling bersinergi untuk mendukung program pemerintah ini,” katanya.
Menurut salah satu orang tua siswa, Yusuf, model MBG prasmanan dinilai inovatif dan layak diaplikasikan. Ia menyebutkan sistem ini memudahkan distribusi makanan dan mengurangi pemborosan, karena siswa bisa menyesuaikan porsi sesuai kebutuhan. “Saya ingin ada lagi, semoga MBG bisa dilanjutkan dengan prasmanan,” imbuhnya.
Keberhasilan program ini juga didukung oleh siswa yang kompak merespons. Mereka senang karena menu memiliki rasa yang enak, mirip dengan paket makanan ompreng namun dengan variasi yang lebih menarik. Dengan model ini, kebutuhan gizi anak-anak diharapkan terpenuhi secara efektif dan berkelanjutan.