Key Issue: Kegigihan dan optimisme peserta difabel berjuang di SNBT
Kegigihan dan Optimisme Peserta Difabel Berjuang di SNBT
Jember, Jawa Timur (ANTARA) – Dalam hari pertama pelaksanaan ujian UTBK SNBT 2026, tiga peserta berkebutuhan khusus mengikuti ujian di Gedung LPMPP Universitas Jember. Mereka adalah Yogi Ardiansyah (disabilitas daksa), Muhammad Derbian Dwi Putra (disabilitas daksa), dan Carissa Vania Artamevira (disabilitas rungu). Petugas yang ramah menyambut mereka di lokasi ujian, di mana fasilitas lift di gedung tersebut memudahkan akses ke ruangan di lantai tiga.
Kampus negeri ini juga menyediakan pusat layanan konseling dan difabel, siap memberikan bantuan jika dibutuhkan. Meski dua peserta disabilitas daksa menggunakan kursi roda, hanya satu dari mereka yang dibawa petugas ke ruangan. Di dalam ruang ujian, tiga peserta difabel berinteraksi secara aktif dengan peserta lain tanpa adanya tambahan fasilitas khusus, karena mereka merasa nyaman dan terbantu.
Penyiapan Fasilitas untuk Meningkatkan Kualitas Ujian
Ketua Panitia UTBK SNBT Unej, Prof Slamin, menyatakan bahwa tim telah menyiapkan berbagai dukungan untuk peserta disabilitas. Fokusnya mencakup pengaturan ruang, pendampingan, serta aksesibilitas ke lokasi ujian. Ujian berlangsung dari 21 hingga 30 April 2026, dengan 13.311 peserta dan 955 komputer terdistribusi di 31 ruangan di 20 lokasi kampus.
“Kami berkomitmen menyediakan lingkungan ujian yang inklusif, agar peserta difabel bisa berpartisipasi dengan optimal,” ujar Prof Slamin.
Salah satu peserta, Yogi, yang mengalami kelainan tulang belakang, mengakui tidak ada hambatan teknis selama ujian. Namun, ia sempat kesulitan menjawab soal-soal pada bagian penalaran matematika. Meski demikian, bantuan petugas yang cepat dan sigap membuatnya merasa lebih percaya diri.
“Petugas membawa kursi roda ke ruangan, sehingga saya bisa fokus mengerjakan soal tanpa repot berpindah,” katanya.
Dari sudut pandang fasilitas, peserta difabel menilai lingkungan ujian sangat mendukung kenyamanan. Penyediaan kursi roda, panduan untuk mobilitas, dan suasana yang inklusif mencerminkan upaya universitas dalam memastikan keadilan pendidikan.