Latest Program: Wamenag soroti kebutuhan pendidikan vokasi dalam pengembangan madrasah

Wamenag Soroti Kebutuhan Pendidikan Vokasi dalam Pengembangan Madrasah

Jakarta — Wakil Menteri Agama, Romo Muhammad Syafi’i, menegaskan pentingnya memperkuat pendidikan vokasi sebagai respons terhadap tantangan kebutuhan nasional dalam rekonstruksi madrasah. Dalam upaya mencapai tujuan besar pemerintah, seperti peningkatan industri, pemanfaatan sumber daya lokal, serta kemandirian pangan, madrasah harus mampu menghasilkan lulusan yang memiliki pemahaman agama dan kemampuan teknis. Menurutnya, peluang kerja semakin luas, namun kurikulum saat ini belum sepenuhnya sesuai dengan tuntutan tersebut.

“Peluang lapangan kerja semakin luas, tetapi kurikulum kita belum sepenuhnya menjawab kebutuhan itu,” kata Wamenag Romo Syafi’i dalam pernyataan resmi di Jakarta, Kamis.

Saat ini, Kementerian Agama sedang melakukan perubahan struktur dalam Direktorat Jenderal Pendidikan Islam setelah pembentukan Direktorat Jenderal Pesantren. Fokus utama adalah penguatan pendidikan kejuruan di madrasah dan lembaga pendidikan tinggi keagamaan, sebagai upaya menjawab dinamika masa depan. Ia menekankan bahwa reformasi pendidikan Islam tidak boleh hanya berhenti pada aspek normatif, tetapi harus diimbangi dengan penyesuaian peran pendidikan secara lebih konkret.

Menurut Wamenag, pemerintah mendorong kolaborasi lintas kementerian untuk memperkuat madrasah kejuruan serta program vokasi. Ia juga menambahkan bahwa ilmu pengetahuan, baik sains, teknologi maupun ekonomi, sebenarnya merupakan bagian dari ajaran Islam. Menurutnya, pemisahan antara ilmu agama dan umum justru menghambat kemajuan.

Pemikir Islam Tegaskan Visi Pendidikan yang Sistematis

Sementara itu, pakar keislaman Haidar Bagir menyoroti pentingnya merancang visi pendidikan yang didasarkan pada tujuan akhir, yaitu profil lulusan yang diharapkan. Ia menekankan bahwa pendidikan harus dirancang secara logis, melalui visi-misi, standar kelulusan, dan kurikulum yang terpadu. Contohnya, visi pendidikan tidak hanya fokus pada kecerdasan intelektual, tetapi juga pembentukan kepribadian yang baik.

“Distingsi ini harus dirumuskan secara jelas agar pesantren tetap menjaga nilai dasarnya dalam arus modernisasi,” ujarnya.

Bagi Haidar, pesantren memiliki keunggulan khas yang tidak dimiliki sistem pendidikan modern, seperti integrasi antara rasionalitas dan spiritualitas. Peran adab sebagai elemen epistemologi serta transmisi ilmu secara non-formal, seperti hubungan kiai dan santri, juga menjadi bagian penting dari pendekatan ini. Ia menilai, perbedaan ini harus ditekankan agar pesantren tidak kehilangan esensinya dalam perkembangan zaman.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *