Meeting Results: Menata ulang rumah kebudayaan
Menata ulang rumah kebudayaan
Surabaya – Pusat aktivitas kesenian di kota ini tetap berjalan dinamis. Balai Pemuda, sejak dulu, menjadi tempat yang menjaga warisan seni pertunjukan Surabaya. Jejak panjang dari berbagai bentuk seni telah terus dipertahankan, diuji, dan dilestarikan secara berkelanjutan. Namun, di tengah perubahan cepat kota, muncul pertanyaan: apakah ruang-ruang ini mampu memenuhi dinamika kebudayaan yang lebih luas dari sekadar pertunjukan seni?
Rencana pengubahan nama Dewan Kesenian Surabaya menjadi Dewan Kebudayaan Surabaya dianggap sebagai jawaban atas kegelisahan tersebut. Tidak hanya mengubah sebutan institusi, langkah ini bertujuan memperluas cara kota memahami, mengelola, serta memajukan aspek kebudayaan secara menyeluruh.
Dalam rangka UU Nomor 5 Tahun 2017
Dalam konteks Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan, perubahan ini dianggap sebagai keharusan, bukan sekadar pilihan. Sebelumnya, dewan kesenian lebih berfokus pada seni sebagai ekspresi estetika, padahal kebudayaan mencakup berbagai aspek yang lebih luas, seperti adat istiadat, ritual, bahasa, hingga pengetahuan tradisional.
Data dan dinamika lapangan menunjukkan bahwa Surabaya memiliki modal sosial budaya yang kuat. Aktivitas seni rupa rutin, pertunjukan tari yang konsisten, serta komunitas sastra yang tetap hidup, menjadi indikator bahwa kota ini tidak kekurangan energi kreatif.
Perluasan ruang lingkup kebudayaan juga membawa tantangan baru. Dewan Kebudayaan diharapkan menjadi simpul strategis yang menghubungkan berbagai elemen tersebut. Namun, energi kreatif di Surabaya sering kali berjalan terpisah, belum sepenuhnya terintegrasi dalam satu ekosistem yang utuh. Transformasi kelembagaan menjadi pintu masuk untuk memperbaiki kondisi ini.
Pertanyaannya sekarang bukan lagi apakah dewan kebudayaan diperlukan, tetapi bagaimana memastikan lembaga ini tidak hanya menjadi simbol administratif. Salah satu masalah utama dalam pengelolaan kebudayaan di kota besar adalah fragmentasi. Komunitas berkembang, kegiatan berjalan, namun koordinasi sering lemah.
Surabaya tidak terlepas dari tantangan ini. Balai Pemuda, misalnya, telah lama menjadi titik temu berbagai ekspresi kreatif. Sejak 1970-an, ruang ini melahirkan banyak seniman terkenal dan menjadi pusat kegiatan seni. Meski fungsi ruang ini masih vital, ketergantungan pada satu titik utama menciptakan tantangan baru, seperti keterbatasan akses dan distribusi kegiatan.
Di sisi lain, kebutuhan akan ruang alternatif semakin mendesak. Banyak pelaku seni menginginkan galeri, ruang pertunjukan, hingga ruang eksperimen yang tersebar di berbagai lokasi kota. Tanpa ruang seperti itu, pertumbuhan ekosistem kebudayaan akan terhambat oleh keterbatasan fisik.