New Policy: Cegah basi, Wagub Jateng minta distribusi dan konsumsi MBG tepat waktu

Cegah basi, Wagub Jateng minta distribusi dan konsumsi MBG tepat waktu

Di Kabupaten Demak, Selasa, Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen menekankan pentingnya pengelolaan waktu distribusi dan konsumsi makanan dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk menghindari risiko keracunan akibat bahan makanan yang sudah membusuk. “Keracunan sering terjadi karena jadwal pengiriman tidak teratur, makanan memiliki masa tahan yang terbatas, jadi harus segera disampaikan dan langsung dikonsumsi,” ujarnya.

“Jangan sampai makanan disimpan terlebih dahulu, lalu dimakan di hari berikutnya,” kata Ketua Kelompok Kerja (Pokja) Percepatan Pelaksanaan MBG tersebut.

Kasus dugaan keracunan yang menimpa ratusan santri di Desa Pilangwetan, Kecamatan Kebonagung, Demak, menjadi fokus perhatian Pemprov Jateng. Insiden ini terjadi setelah makanan MBG didistribusikan pada Sabtu (18/4), dengan gejala seperti sakit perut, pusing, mual, dan muntah muncul pada Minggu (19/4) pagi. Kelompok rentan seperti ibu hamil, ibu menyusui, dan balita juga terdampak, dengan total korban diperkirakan mencapai 187 orang.

Hingga Senin (20/4), sebanyak 68 orang menjalani perawatan inap, sementara 66 lainnya dalam rawat jalan dengan pemantauan intensif. Menanggapi hal ini, Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) terkait kasus telah dihentikan sementara, sementara Dinas Kesehatan melakukan uji laboratorium untuk mengetahui penyebab pasti, serta mengevaluasi secara menyeluruh sarana produksi pangan, termasuk aspek higienitas, lingkungan, dan sumber daya manusia.

Wagub Taj Yasin juga memastikan pemerintah tidak ragu memberikan sanksi terhadap penyedia layanan MBG yang tidak disiplin, mulai dari pembinaan hingga pencabutan izin operasional dapur. “Di Jawa Tengah sudah ada contoh penutupan dapur, ini menjadi peringatan keras. Bahkan pemerintah pusat telah memberikan peringatan, termasuk tahapan sanksi hingga izin operasional dicabut,” tambahnya.

Lebih lanjut, ia meminta sekolah maupun pesantren aktif membimbing siswa atau santri agar langsung mengonsumsi makanan yang didistribusikan, tanpa disimpan terlalu lama. Langkah ini diharapkan mencegah masalah serupa terulang dan menjaga kualitas makanan yang diberikan kepada masyarakat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *