Topics Covered: Perkara Uranium yang Bikin Iran dan AS Berbantah-bantahan

Perundingan AS-Iran di Islamabad Masih Berlangsung Tanpa Hasil Pasti

Perundingan antara Amerika Serikat dan Iran di Islamabad, Pakistan, yang memicu kontroversi di Timur Tengah selama beberapa bulan, belum menghasilkan kesepakatan. Salah satu faktor utama penyebab ketegangan adalah masalah uranium. Pernyataan resmi dan kebijakan yang diusulkan kedua pihak terus memicu debat sengit.

Syarat Uranium Menjadi Fokus Utama

Dilansir detikcom, Sabtu (18/4/2026), laporan dari berbagai sumber seperti TRT World menunjukkan bahwa Iran menawarkan pembekuan pengayaan uranium selama lima tahun, sementara AS menekankan kebutuhan penundaan selama 20 tahun. Menurut dua pejabat Iran senior dan seorang pejabat AS, Teheran dalam surat resmi yang dikirimkan pada Senin (13/4) mengusulkan jeda yang lebih singkat.

“Uranium yang diperkaya milik Iran tidak akan dipindahkan ke mana pun,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baqaei.

Iran juga menolak tuntutan AS untuk mengirimkan persediaan uranium yang sangat diperkaya keluar negeri. Mereka bersikeras menjaga kekayaan uranium di dalam wilayah mereka, serta menawarkan untuk menurunkan tingkat pengayaannya hingga tidak bisa digunakan sebagai bahan senjata nuklir.

Trump Klaim Iran Setuju Serahkan Persediaan Uranium

Presiden AS Donald Trump mengungkapkan, dalam laporan AFP, Jumat (17/4), bahwa Iran telah menyetujui transfer persediaan uranium. Ia menyebutkan rencananya untuk kembali ke Islamabad dan menandatangani perjanjian tersebut.

“Kita sangat dekat untuk membuat kesepakatan dengan Iran,” kata Trump.

Trump menegaskan bahwa Iran sepenuhnya setuju dengan tujuan memastikan negara tersebut tidak pernah mengembangkan senjata nuklir, meski perbedaan pendapat masih terjadi pada detailnya.

Iran Bantah Klaim Trump dan Tegaskan Kemandirian Nuklir

Menyikapi pernyataan Trump, Kementerian Luar Negeri Iran langsung membantah. Menurut Baqaei, Iran tidak pernah membahas pemindahan uranium dalam negosiasi. Ia menyoroti bahwa pembicaraan terakhir fokus pada penyelesaian perang dan perluasan topik, termasuk rencana 10 poin untuk mencabut sanksi.

“Negosiasi sebelumnya berfokus pada masalah nuklir, tetapi sekarang negosiasi berfokus pada mengakhiri perang, dan tentu saja cakupan topik yang dibahas menjadi lebih luas dan beragam,” ujarnya.

Iran juga mengkritik Trump atas klaim bahwa blokade angkatan laut AS terhadap pelabuhan negara mereka akan tetap berlaku hingga kesepakatan damai tercapai, meskipun Teheran telah menyatakan Selat Hormuz dibuka kembali.

Pembicaraan Selanjutnya Masih Tunda

Menurut New York Times, perundingan saat ini masih dalam tahap penyelesaian konflik. Sementara itu, belum ada jadwal pasti untuk putaran selanjutnya. Meski ada kemajuan, kekhawatiran AS akan kemampuan Iran untuk memperkaya uranium kembali di masa depan tetap menjadi perdebatan.

Laporan NYT menunjukkan bahwa persediaan uranium dan sanksi tetap menjadi isu utama, dengan Iran menekankan kebutuhan kompensasi atas kerusakan akibat perang yang dipaksakan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *