Key Discussion: Kreator konten RI kagumi teknologi dan budaya Teluk Besar Guangdong

Kreasi Konten Indonesia Terkesan oleh Kombinasi Teknologi dan Budaya di Guangdong

Sejumlah kreator konten dari Indonesia melakukan kunjungan ke Provinsi Guangdong, Tiongkok Selatan, selama 7 hingga 11 April. Mereka mengamati keunggulan teknologi serta daya tarik budaya yang terdapat di Kawasan Teluk Besar (Greater Bay Area/GBA) yang mencakup Guangzhou, Dongguan, dan Shenzhen. Di sana, tradisi lokal dan kemajuan modern saling melengkapi, menciptakan suasana yang menarik perhatian.

Pengalaman Budaya di Guangzhou

Di Balai Kebudayaan Guangzhou, para kreator menunjukkan minat pada pakaian tradisional Tiongkok, hanfu. Mereka mengenakan pakaian tersebut, yang memancing antusiasme pengunjung dan warga lokal untuk berfoto bersama. “Saya sering mendengar di Indonesia bahwa generasi muda Tiongkok sangat menyukai hanfu. Hari ini saya akhirnya bisa mencobanya sendiri. Pakaian tradisional Tiongkok sangat indah, dan saya ambil banyak foto,” tulis Diana Paramitha dalam pernyataannya.

Kunjungan ke Pusat Teknologi MINISO

Pada kunjungan ke MINISO LAND di Jalan Beijing, Distrik Yuexiu, Guangzhou, Siti Nadia membeli boneka “Lychee Dundun Chicken.” Ia menyebutkan bahwa buah leci dari wilayah Lingnan memiliki sejarah panjang dan terkenal, sehingga menjadi hadiah yang bermakna. “Boneka ini juga menggabungkan aroma leci yang lembut, mencerminkan ciri khas Guangzhou,” ujarnya sambil tersenyum. “Di Indonesia, saya sangat senang mengunjungi MINISO, hampir setiap bulan saya datang,” tambahnya.

Galakan Teknologi di GBA

Dalam perjalanan, para kreator juga mengalami inovasi teknologi yang menonjol. Di Pusat Pengalaman Pintar Haixinsha, Guangzhou, mereka mencoba kokpit mobil terbang dan mengendalikan robot sepak bola. Pengalaman tersebut membuat mereka merasa seperti berada di masa depan. Di Dongguan, mereka mengunjungi kantor pusat OPPO Guangdong Mobile Communications Co., Ltd. Perusahaan ini telah meraih posisi dominan di pasar ponsel Indonesia sejak 2015, ketika membuka pabrik pertama di luar negeri. Achmad Candra Lukito menyebutkan bahwa ia sudah memiliki empat ponsel OPPO, dan keluarganya serta teman-teman juga menggunakannya. “Saya tidak menyangka produk ini dibuat di Guangdong,” ungkapnya.

Shenzhen: Kota Inovasi dan Dunia Robot

Shenzhen, yang dikenal sebagai zona ekonomi khusus serta kota inovasi nasional, menarik perhatian para kreator dengan fasilitas teknologi canggih. Di ruang pameran UBTECH, robot bernama “Wukong” mampu berinteraksi dan menari, memukau pengunjung. Di toko robot humanoid pertama di dunia di Distrik Futian, robot dari Zhongqing Robotics menampilkan gerakan seni bela diri seperti pukulan dan tendangan. Di Huaqiangbei, yang disebut sebagai “jalan elektronik pertama Tiongkok,” robot anjing membawa paket sambil berjalan di tengah keramaian, sementara pelanggan asing memilih produk elektronik. “Saya tahu perkembangan industri masa depan di Shenzhen sangat cepat, tetapi robot yang saya lihat kali ini benar-benar melebihi bayangan saya,” kata Siti Nadia.

Pemandangan Alami di Taman Ekologi Shenzhen

Kawasan ini juga dikenal dengan lingkungan hijau yang menarik. Di Taman Ekologi Mangrove Futian, Diana Paramitha terpukau oleh pemandangan alam yang asri. “Indonesia adalah negara kepulauan dengan banyak lanskap alami, tapi jarang ada taman di tengah kota besar yang menyatukan fungsi ekologi dan ruang publik seperti ini,” katanya. “Para tamu APEC bisa berjalan-jalan di taman Shenzhen dan melihat langsung perpaduan antara teknologi dengan alam,” tambahnya.

Pada November mendatang, Tiongkok akan menyelenggarakan Pertemuan Pemimpin Ekonomi APEC ke-33 di Shenzhen, Guangdong. Ini akan menjadi ketiga kalinya Tiongkok menjadi tuan rumah acara tersebut. Kehadiran para kreator konten dari Indonesia diharapkan dapat memperkaya perspektif mereka tentang integrasi teknologi dan budaya yang diterapkan di wilayah tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *