NPD Bisa Sembuh? Cek Faktanya di Sini!
Main Agenda – Dalam era media sosial yang semakin berkembang, berbagai kondisi psikologis sering kali menjadi topik hangat. Salah satu gangguan yang menarik perhatian adalah Gangguan Kepribadian Narsistik (NPD). Meski masyarakat ramai membicarakan NPD, banyak yang masih bingung apakah kondisi ini bisa benar-benar teratasi atau hanya bisa dikurangi. Psikolog Klinis Veny Oktaviani memberikan penjelasan yang jelas tentang hal ini.
Penjelasan dari Veny Oktaviani
Veny Oktaviani, dalam wawancara podcast Hola Dok pada Senin (25/5/2026), menekankan bahwa istilah ‘sembuh’ tidak tepat untuk menggambarkan proses pemulihan NPD. “Di psikologi, istilah yang lebih tepat adalah ‘pulih’—artinya perubahan perilaku dan pola pikir, bukan menghilangkan kepribadian seseorang secara total,” jelasnya. Menurut Veny, sifat narsistik bukanlah sesuatu yang bisa dianggap sebagai kecacatan, melainkan bagian dari kepribadian yang bisa dikelola.
“Kalau di psikologi bahasanya pulih. Jadi bukan benar-benar menghilangkan kepribadiannya,” ujar Veny dalam podcast Hola Dok, Senin (25/5/2026).
Gangguan ini, menurutnya, berkembang sejak masa remaja hingga usia dewasa akhir. “Mereka mungkin sudah memiliki pola pikir tertentu sejak lama, tapi saat dewasa, masalahnya menjadi lebih terlihat,” tambah Veny. Ia juga menyoroti bahwa kebanyakan orang dengan ciri-ciri NPD tidak mencari bantuan sendiri, melainkan keluarga, pasangan, atau rekan kerja yang merasa terganggu.
Tahap Pemulihan dan Tantangannya
Pemulihan NPD membutuhkan kesadaran individu untuk terbuka terhadap terapi profesional. “Jika seseorang masih menolak bantuan, maka prosesnya akan terhambat,” kata Veny. Namun, jika individu sadar akan masalahnya dan bersedia mengikuti program pengobatan, kemungkinan pulih sangat besar. Ia menekankan bahwa perawatan tidak sekadar mengubah sifat narsistik, tetapi juga meningkatkan kemampuan empati dan mengurangi kelebihan dalam sikap superior.
“Kalau orangnya denial dan menolak, tentu akan sulit dibantu. Tapi kalau dia sudah aware dan mau menjalani treatment, sangat mungkin untuk pulih,” ujarnya.
Veny juga memperingatkan bahwa NPD tidak bisa dikaitkan langsung dengan perilaku negatif semata. “Ini adalah hasil dari pengalaman masa kecil, seperti kurangnya validasi emosional dari orang tua,” jelasnya. Ia menambahkan bahwa individu yang sering merasa tidak diakui saat kecil cenderung mengembangkan kebutuhan terus-menerus untuk mencari pujian dan penghargaan di usia dewasa.
Faktor Penyebab NPD
Menurut Veny, NPD bisa muncul karena trauma atau kekecewaan yang terus-menerus sepanjang masa kecil. “Banyak orang yang merasa terluka di masa remaja dan dewasa awal, lalu mencari validasi dari luar sebagai kompensasi,” katanya. Fenomena ini sering terjadi karena kurangnya dukungan emosional atau komunikasi yang baik dari lingkungan sekitar. Selain itu, faktor genetik dan lingkungan sosial juga berperan dalam penyebabnya.
“NPD bisa muncul karena ada luka lama. Dari kecil tidak divalidasi, tidak diberi pujian, akhirnya saat dewasa mencari validasi terus-menerus,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa NPD bukan hanya masalah individu, melainkan refleksi dari interaksi sosial dan pengalaman masa kecil. “Kebiasaan orang tua yang terlalu menekankan pencapaian atau membandingkan anak dengan orang lain bisa menjadi pemicu,” ujarnya. Veny juga menekankan bahwa pemulihan memerlukan waktu, disiplin, dan kerja sama antara klien dan terapis.
Peran Perawatan Mental
Veny menggarisbawahi pentingnya menjaga kesehatan mental selain terapi. “Pola hidup yang sehat, seperti tidur cukup, makan teratur, dan mengurangi penggunaan media sosial, bisa mendukung proses pemulihan,” ujarnya. Tidur yang memadai, khususnya, menjadi hal kritis dalam menjaga keseimbangan psikologis. “Kurang tidur membuat otak lebih rentan terhadap kecemasan dan kebiasaan berpikir berlebihan,” kata Veny.
Di sisi lain, kebiasaan doomscrolling—yaitu mengguliskan media sosial tanpa henti—justru bisa memperparah kondisi. “Generasi muda sering terjebak dalam alur berita negatif, yang membuat mereka lebih rentan terhadap kecemasan dan kesulitan fokus,” jelasnya. Veny menyarankan untuk membatasi waktu layar, terutama sebelum tidur, agar proses pemulihan lebih efektif.
Pencegahan dan Langkah Praktis
Veny juga menegaskan bahwa masyarakat tidak boleh langsung menyimpulkan bahwa seseorang memiliki NPD hanya karena menunjukkan beberapa ciri. “Banyak dari kita yang terkadang merasa memiliki sifat narsistik, tetapi itu belum tentu membahayakan kehidupan sehari-hari,” ujarnya. Ia menyarankan untuk mengevaluasi gejala secara objektif dan meminta bantuan profesional jika memang ada gangguan signifikan.
“Kalau memang merasa ada sesuatu yang mengganggu dan sudah mempengaruhi kehidupan sehari-hari, datanglah ke profesional,” tegasnya.
Menurut Veny, perawatan NPD bisa dilakukan melalui terapi individu atau kelompok, serta pendekatan psikologis yang tepat. “Terapi kognitif-perilaku dan psikodinamis sering digunakan untuk membantu individu memahami sumber masalahnya dan mengubah pola berpikir,” jelasnya. Selain itu, ia menyarankan untuk mendorong kebiasaan positif, seperti berolahraga, mengelola stres, dan menjalin komunikasi yang baik dengan orang terdekat.
Dengan kesadaran dan komitmen yang tinggi, NPD bisa dianggap sebagai tantangan yang bisa diatasi. “Ini bukan penyakit yang tak terlukai, melainkan keadaan yang bisa diperbaiki dengan dukungan yang tep
