Sekolah Rakyat Margaguna unjuk bakat siswa di peringatan Hari Kartini
Sekolah Rakyat Margaguna unjuk bakat siswa di peringatan Hari Kartini
Pertunjukan Seni Memeriahkan Hari Kartini
Dalam rangka memperingati Hari Kartini, Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 10 Margaguna, Jakarta Selatan, mengadakan acara yang menampilkan beragam talenta dari para siswanya. Acara ini mencakup pertunjukan tari tradisional, paduan suara, band, serta pertunjukan teater. “Anak-anak bagus di tari tradisional, paduan suara, band, terus sama teater. Akhirnya kami bersepakat bahwa talent-talent yang dimiliki oleh anak-anak kami itulah yang kami tampilkan,” ujar Kepala SRMA 10 Margaguna Jakarta Selatan, Ratu Mulyanengsih saat diwawancara di Jakarta, Selasa.
Bagi saya itu, Kartini itu memberikan kesempatan kepada kaum termarginalkan untuk terdidik. Nah, Sekolah Rakyat (SR) ini ingin memajukan kaum yang terbelakang juga, tidak terbatas di perempuan maupun laki-laki. Jadi saya merasa makna Kartini dengan makna SR sedikit relevan,” katanya.
Persiapan dan Potensi Siswa
Menurut Ratu, persiapan acara dilakukan dengan membentuk tim panitia, menyamakan persepsi, serta mengidentifikasi kemampuan yang ada pada siswa. Berbagai karya seni yang ditampilkan mencakup tari tradisional, paduan suara, band, hingga teater. Selain itu, karya-karya siswa juga dipamerkan sebagai bukti dari proses belajar mereka.
Ia menambahkan, meski sekolah tersebut belum genap satu tahun berdiri, perkembangan siswa sudah mulai terlihat, khususnya dalam hal rasa percaya diri dan penemuan bakat. Dalam berjalannya pembelajaran, potensi yang dimiliki para siswa semakin teridentifikasi.
Fasilitas dan Komposisi Siswa
Sekolah Rakyat Margaguna, Jakarta Selatan, yang berada di bawah Pusat Pendidikan, Pelatihan dan Pengembangan Profesi (Pusdiklatbangprof), memiliki area seluas empat hektare lebih. Fasilitas yang tersedia, seperti perpustakaan, pusat kebugaran, studio musik, lapangan bulu tangkis, dan voli, dirancang untuk meningkatkan semangat belajar para siswa.
Saat ini, SRMA 10 Margaguna menerima 100 siswa, terdiri dari 56 laki-laki dan 44 perempuan. Siswa diberikan akses ke asrama dengan kapasitas maksimal empat orang per kamar. Mereka berusia antara 15 hingga 21 tahun, sebagian besar telah putus sekolah karena berbagai alasan.
Harapan Masa Depan
Kepala sekolah mengungkapkan bahwa kegiatan tersebut juga bertujuan untuk menampilkan keunggulan siswa di bidang seni, meski tidak semua bakat bisa ditampilkan di panggung. Ia berharap, ke depan, siswa dapat terus mengembangkan kreativitas, memperkuat rasa nasionalisme, serta memiliki kemampuan akademik dan jiwa kewirausahaan. “Harapannya ke depan, kami ingin mereka itu berkembang jiwa kreativitasnya dan memiliki karakter kebangsaannya kuat. Makanya nilai-nilai budaya di sini tetap dipertahankan,” ucap dia.