Latest Program: Ternyata Ini Masalah yang Bikin CEO Bank Terbesar ASEAN Sulit Tidur

CEO Bank Terbesar ASEAN Jelaskan Ancaman Siber sebagai Risiko Utama

Dalam wawancara dengan CNBC di acara CONVERGE LIVE di Singapura, CEO DBS Tan Su Shan mengungkapkan bahwa ancaman siber menjadi faktor utama yang mengganggu tidurnya. Meski volatilitas pasar dan guncangan geopolitik selalu menjadi perhatian, ia menekankan bahwa serangan siber menempati posisi paling menonjol.

“Keamanan siber. Saya yakin perang baru adalah siber. Hal yang membuat saya sulit tidur adalah siber. Siapa yang akan menyerang siapa, dan bagaimana prosesnya terjadi, serta dampaknya pada pengguna,” ujarnya.

Tan mengatakan bahwa pandangan ini mencerminkan perubahan signifikan dalam cara lembaga keuangan menghadapi risiko. Dengan berkembangnya kecerdasan buatan (AI), ancaman siber kini lebih terkait dengan dinamika geopolitik, menambah kompleksitas yang perlu diantisipasi.

Strategi DBS dalam Melawan Serangan Siber

Bank DBS mengambil pendekatan yang berbeda dalam menghadapi risiko siber, menerapkan budaya kewaspadaan yang disengaja. Menurut Tan, ini melibatkan “red teaming” atau simulasi serangan untuk menguji ketahanan sistem secara berkelanjutan.

Prinsip tersebut didasari oleh keyakinan bahwa AI memperkenalkan kerentanan baru. Dengan kemajuan teknologi, serangan siber bisa lebih canggih dan menjangkau titik-titik sensitif dalam operasional perbankan. “Kita terus-menerus paranoid tentang keamanan siber… pemenang akan dibedakan oleh adopsi yang baik, adopsi yang cerdas, dan adopsi yang aman,” tambahnya.

Ketahanan dan Perubahan dalam Lingkungan Operasional

Kewaspadaan terhadap ancaman siber semakin penting seiring pertumbuhan adopsi AI di sektor keuangan. Tan menyebut bahwa generative AI dan “agen” menambah lapisan kompleksitas dalam sistem, memperluas permukaan serangan.

Ia menekankan perlunya mengelola siklus hidup data secara ketat, mulai dari pembuatan hingga penghapusan. Karena itu, DBS membangun kerangka kerja yang memastikan kontrol akses, auditabilitas, dan transparansi data.

Guncangan Global dan Adaptasi Lebih Cepat

Ketidakstabilan ekonomi terus berlangsung, dipengaruhi oleh gangguan rantai pasokan, ketegangan perdagangan, serta konflik global seperti perang Iran. Faktor-faktor ini memaksa perusahaan untuk merevisi strategi ketahanan dari rantai pasokan hingga sistem pembayaran.

Menurut Tan, lingkungan operasional yang fluktuatif menuntut adaptasi yang cepat. “Bersiaplah untuk yang terburuk, harapkan yang terbaik, tetapi siapkan panduan tersebut,” kata dia, menyoroti pentingnya redundansi, jalur alternatif, dan rencana darurat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *