Reli Panjang Putus – IHSG Berakhir Melemah 0.68% ke 7.623

Reli Panjang Putus, IHSG Berakhir Melemah 0.68% ke 7.623

Jakarta, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri hari ini dengan penurunan, memutus tren kenaikan yang terjadi sebelumnya. Pada penutupan perdagangan Rabu (15/4/2026), IHSG turun 0,68% atau 52,36 poin, kembali ke level 7.623,58. Meski sepanjang sesi perdagangan IHSG berada di zona hijau, penurunan terjadi satu jam sebelum pasar ditutup.

Kondisi Pasar dan Sektor

Penguatan IHSG hari ini terhenti, menyebabkan indeks mencatatkan penurunan pertama dalam lima hari terakhir. Dalam perdagangan hari kemarin, IHSG berhasil naik hingga hampir 9%. Dari 7 April hingga 14 April 2026, indeks sebagian besar berada di zona merah, meski tercatat kenaikan 8,66% selama periode tersebut.

Nilai transaksi pasar hari ini mencapai Rp 22,61 triliun, melibatkan 3,16 juta transaksi dan 51,44 miliar saham. Kapitalisasi pasar naik menjadi Rp 13.606 triliun. Mayoritas sektor mengalami koreksi, dengan sektor kesehatan, konsumer non-primer, dan finansial menjadi yang terbesar. Di sisi lain, sektor industri, konsumer primer, dan energi mencatatkan kenaikan signifikan.

Emiten konglomerat berkontribusi terhadap kenaikan IHSG hari ini. Beberapa emiten dengan dampak paling besar pada pelemahan indeks termasuk BBCA (bank Djarum), SRAJ (RS Mayapada), MSIN (MNC Group), TPIA dan BRPT (Barito Prajogo), AMMN dan BUMI (tambang Salin), serta tiga emiten BUMN (BBRI, BMRI, dan TLKM).

Pasar Asia dan Perkembangan Diplomasi

Bursa Asia melanjutkan reli pada awal sesi perdagangan hari ini, seiring harapan perjanjian damai antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel. Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa pembicaraan untuk mengakhiri perang dapat dilanjutkan di Pakistan dalam dua hari ke depan. “Anda sebaiknya tetap berada di sana, karena sesuatu bisa terjadi dalam dua hari ke depan, dan kami lebih condong ke sana,” ujarnya dalam wawancara dengan New York Post.

“Anda sebaiknya tetap berada di sana, karena sesuatu bisa terjadi dalam dua hari ke depan, dan kami lebih condong ke sana,” kata Trump dalam wawancara dengan New York Post.

Blokade AS terhadap pelabuhan Iran memicu reaksi keras dari Teheran, tetapi indikasi perundingan yang terus berlanjut memberi efek penenang pada pasar minyak. Harga acuan turun di bawah US$100 pada Selasa, setelah serangan AS-Israel terhadap Iran mempercepat ketegangan di Timur Tengah.

Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Global

Dana Moneter Internasional (IMF) mengubah proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia akibat kenaikan harga energi. Dalam laporan World Economic Outlook edisi April 2026, pertumbuhan ekonomi global diperkirakan sebesar 3,1% tahun ini, turun dari proyeksi 3,3% pada Januari 2026. Perang Timur Tengah dan gangguan pengiriman melalui Selat Hormuz menjadi faktor utama.

IMF menyusun tiga skenario: ringan, buruk, dan parah. Dalam skenario terburuk, ekonomi dunia hampir mengalami resesi, dengan harga minyak mencapai US$110 per barel di 2026 dan US$125 di 2027, membuat pertumbuhan global turun hingga 2,0%. Skenario dasar menunjukkan konflik singkat dan harga minyak stabil di sekitar US$82 per barel.

Ekonom IMF Pierre-Olivier Gourinchas mengatakan situasi saat ini memasuki skenario yang lebih buruk. Dampak terbesar diperkirakan terjadi di negara-negara berkembang serta kawasan Timur Tengah dan Asia Tengah. Pertumbuhan kawasan tersebut diprediksi mencapai 1,9% pada 2026.

Negara-negara besar seperti AS dan zona Euro diproyeksikan tumbuh 2,3% dan 1,1% tahun ini. China akan mencapai 4,4%, sementara India tumbuh 6,5%. Untuk Indonesia, IMF tetap mempertahankan proyeksi pertumbuhan sebesar 5,0%.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *