Topics Covered: Purbaya Happy: S&P Pertahankan Rating Indonesia BBB & Outlook Stabil

Purbaya Happy: S&P Pertahankan Rating Indonesia BBB & Outlook Stabil

Di Jakarta, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan bahwa Standard & Poor’s (S&P) memberikan penilaian triple B dengan outlook yang tetap stabil. Pengumuman ini diberikan setelah pertemuan dengan perwakilan S&P di Washington DC, Amerika Serikat, pada Kamis (16/4/2026).

“Saya senang mendengar bahwa S&P mengonfirmasi rating kita tetap berada di kategori triple B, dengan outlook yang tidak berubah,” ungkap Purbaya.

Menurut Purbaya, Triple B (BBB) termasuk dalam kategori “Investment Grade” yang menunjukkan risiko gagal bayar relatif kecil. Fokus utama pembicaraan dengan S&P adalah kondisi fiskal Indonesia. “Mereka menanyakan secara rinci mengenai defisit tahun ini dan lalu, terutama ingin memastikan apakah kita mampu menjaga angka di bawah 3 persen dari PDB,” jelasnya.

“Saya menjelaskan bahwa kebijakan ini konsisten dijalankan. Presiden Prabowo telah memberikan petunjuk agar defisit tetap dikendalikan di bawah 3 persen,” terang Purbaya.

Purbaya menyebutkan S&P memiliki sedikit kekhawatiran mengenai pembayaran utang terhadap pendapatan atau pajak. Namun, ia menegaskan hal tersebut masih bisa diatasi ke depan. “Kondisi perbaikan pengumpulan pajak dan cukai telah memberikan dampak positif, sehingga tidak mencapai tingkat yang berisiko,” ujarnya.

Langkah restrukturisasi di dalam Direktorat Jenderal Pajak dan Direktorat Jenderal Bea Cukai juga telah dilakukan untuk meningkatkan efisiensi. “Dua bulan terakhir, pertumbuhan pajak mencapai 30 persen, sementara Januari-Maret dibanding tahun sebelumnya tumbuh 20 persen. Mereka terlihat cukup puas dengan angka tersebut,” tambahnya.

Dalam diskusi, S&P juga mengevaluasi pertumbuhan ekonomi Indonesia, khususnya di triwulan IV yang meningkat dibanding periode sebelumnya. “Pertumbuhan ekonomi di bawah pemerintahan Presiden Prabowo terus membaik, dengan angka awal 2,9 persen dan diprediksi mencapai sekitar 2,8 persen. S&P sangat positif dengan rasio ini,” tegas Purbaya.

Topik utang Indonesia juga menjadi bagian dari pembicaraan, termasuk pembayaran cicilan dan bunga ke depan. “Mereka meninjau rasio pembayaran bunga terhadap pendapatan yang mencapai lebih dari 15 persen. Kami berkomitmen untuk terus memantau dan menjaga stabilitas ekonomi serta kebijakan fiskal,” kata Purbaya.

Menanggapi isu yang menyebutkan Indonesia memiliki risiko tinggi di Asia, Purbaya memperjelas bahwa penilaian itu merujuk pada laporan sebelumnya sebelum pertemuan dengan S&P. “Itu bukan penilaian terkini, melainkan analisis yang dibuat hari sebelumnya,” jelasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *