Key Discussion: Krisis Pangan Hantui Dunia Efek Perang-El Nino, Amran Ungkap Nasib RI

Krisis Pangan Hantui Dunia Efek Perang-El Nino, Amran Ungkap Nasib RI

Menteri Pertanian dan Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas), Amran Sulaiman, menegaskan bahwa ketersediaan pangan di Indonesia tetap stabil meski terdapat ancaman krisis pangan global yang melibatkan beberapa negara. Fenomena iklim ekstrem, seperti El Nino ‘Godzila’, serta ketegangan geopolitik di wilayah Timur Tengah menjadi penyebab utama krisis tersebut. “Krisis pangan dunia dihadapi karena adanya El Nino ‘Godzilla’ dan dinamika geopolitik yang memanas, tapi Indonesia Alhamdulillah,” jelas Amran kepada media di Jakarta, Rabu (15/4/2026).

“Ada aksi-reaksi, krisis atau apapun, pasti ada sisi positifnya. Kita bisa manfaatkan momen ini. Saat harganya bagus, kita tingkatkan ekspor,” tambahnya.

Sementara itu, Amran menyoroti kesempatan yang muncul di sektor pertanian, terutama dalam meningkatkan kapasitas ekspor. Ia menyebutkan bahwa capaian pangan nasional telah menunjukkan hasil positif, baik dalam pertumbuhan ekspor maupun penurunan impor. “Ekspor kita mencapai lebih dari Rp160 triliun, sedangkan impor kita turun Rp41 triliun. Hebat, bukan?” ucapnya. Menurutnya, kondisi Indonesia yang relatif aman dibandingkan negara lain diakui berkat kebijakan pemerintah, terutama di bawah arahan Presiden Prabowo Subianto. “Ini berkah kebijakan Bapak Presiden, yang memastikan kita tidak kewalahan,” katanya.

Di sisi lain, Bulog sedang mengembangkan potensi ekspor pangan ke negara-negara tetangga, termasuk Malaysia. “Kami sedang menjajaki ekspor ke Malaysia, karena ada permintaan cukup besar dari sana,” jelas Ahmad Rizal Ramdhani, Direktur Utama Perum Bulog, Senin (13/4/2026). Ia menegaskan bahwa volume impor beras yang ditargetkan Malaysia mencapai 200 ribu ton, membuka peluang strategis bagi Indonesia.

“Jika ini terwujud, ekspor beras bisa menjadi penopang ekonomi kita di tengah kondisi stok dalam negeri yang kuat,” katanya.

Amran menegaskan bahwa rencana ekspor tidak akan mengganggu kebutuhan masyarakat. “Stok CBP saat ini mencapai 4,8 juta ton, yang jauh lebih tinggi dibandingkan sebelumnya hanya 2,6 juta ton. Ini menjadi dasar untuk kita menjaga harga beras tetap stabil,” tambahnya. Rizal menegaskan bahwa rencana ekspor selaras dengan arahan Presiden Prabowo Subianto untuk menjaga pasokan dan harga pangan. “Kami yakin tidak ada kenaikan harga pangan, khususnya beras, bagi masyarakat Indonesia,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *