Key Issue: Harga Minyak Goreng Naik Lagi Jadi Segini, Pedagang Ungkap Penyebabnya
Harga Minyak Goreng Kembali Naik, Pedagang Jelaskan Faktor Penyebab
Di berbagai pasar tradisional, harga minyak goreng terus mengalami kenaikan. Hal ini diakui oleh para pedagang yang menyebut perubahan harga terjadi secara merata, baik untuk produk premium maupun minyak curah. Dalam pantauan CNBC Indonesia di Pasar Rumput, Jakarta Selatan, harga minyak goreng tampak mengalami peningkatan di hampir seluruh merek yang diperdagangkan.
Penjelasan dari Pedagang
Deni, salah satu pedagang, menuturkan bahwa harga minyak goreng kemasan 2 liter mencapai Rp45.000, naik dari Rp41.000-42.000 sebelumnya. “Semua harga minyak goreng naik, yang Tropical kini Rp45.000 per 2 liter,” katanya. Untuk minyak satu liter, Deni menyebut harga kini Rp23.000, dibandingkan Rp21.000 sebelumnya.
“Naik semua harga minyak goreng, gara-gara plastik katanya jadi mahal, naik semua,” tambah Deni.
Secara serupa, Rosma, pedagang sembako lainnya, mengungkapkan kenaikan harga berlaku untuk berbagai merek. “Minyak curah juga naik, dari Rp21.000 per kg menjadi Rp23.000,” ujarnya. Deni menegaskan bahwa stok minyak goreng di pasar tetap melimpah, tidak ada kelangkaan.
“Iya semua naik. Minyak curah juga naik karena beli plastiknya sudah mahal, sekarang jadi Rp23.000 per kg,” kata Rosma.
Pergerakan Harga Terkini
Berdasarkan data SP2KP Kemendag, harga minyak goreng premium naik ke Rp21.889 per liter pada Jumat (24/4/2026), kenaikan 0,11% dibandingkan hari sebelumnya. Secara mingguan, harga tercatat naik 0,84% dari Rp21.706 per liter sepekan lalu. Jika dibandingkan dengan harga pada 27 Maret 2026, harga naik 2,66% ke Rp19.542 per liter.
Bulan lalu, harga minyak curah mencapai Rp19.542 per liter, naik 0,54% dari Rp19.437 per liter sepekan sebelumnya. Secara tahunan, kenaikan tercatat sebesar 8,81%, dari Rp17.960 per liter pada 24 April 2025.
Penyebab Kenaikan dari Mendag
Mendag Budi Santoso menjelaskan lonjakan harga minyak goreng premium disebabkan oleh kenaikan biaya bahan baku plastik, bukan karena kelangkaan pasokan. “Kalau minyak goreng premium, khusus daerah seperti Papua, memang distribusinya memengaruhi harga. Tapi stok barang ada, nggak ada masalah,” ujarnya.
“Tingginya harga plastik dipengaruhi pasokan nafta di tengah konflik Timur Tengah, yang berdampak pada biaya produksi kemasan,” kata Budi.
Mendag menambahkan, penggunaan plastik dalam kemasan membuat harga minyak goreng sangat sensitif terhadap fluktuasi bahan baku. “Kalau kesediaan minyaknya nggak ada masalah, tapi faktor plastik yang harus kita selesaikan,” tutur dia.