Key Strategy: AS Ditinggal Sekutu, Negara NATO Mulai Lirik China

AS Ditinggal Sekutu, Negara NATO Mulai Lirik China

Jakarta, Beberapa anggota NATO belakangan ini mulai memperhatikan peran China sebagai pihak yang bisa mengurangi ketegangan di Iran. Pergeseran ini terjadi karena makin lemahnya kesepahaman antara sekutu-sekutu dengan Amerika Serikat, yang sebelumnya menjadi pihak utama dalam konflik Timur Tengah. Perdana Menteri Spanyol Pedro Sánchez aktif mengajak Beijing ambil bagian dalam memperkuat perdamaian, khususnya soal konflik Iran yang mengganggu stabilitas kawasan.

Konsultasi dengan Beijing

Dalam lawatannya ke Beijing, Sánchez menganggap China sebagai kekuatan global yang bisa menyelesaikan situasi di Iran dan Selat Hormuz. “Saya tak menemukan pihak lain selain China yang bisa menyelesaikan masalah ini,” ungkapnya, seperti dilansir Newsweek, Rabu (15/4/2026). Desakan tersebut muncul ketika kekhawatiran terhadap pendekatan militer AS semakin membesar, termasuk tindakan Madrid yang melarang penggunaan pangkalan militer untuk operasi Iran.

“Saya merasa sangat sulit untuk menemukan pihak lain, selain China, yang dapat menyelesaikan situasi ini di Iran dan Selat Hormuz,” ujar Sánchez.

Pergeseran sikap Eropa menggambarkan renggangnya hubungan transatlantik, terutama setelah Presiden Donald Trump mengkritik respons NATO yang dinilai tidak konsisten. Di sisi lain, Presiden Xi Jinping menekankan pentingnya kerja sama internasional, memperingatkan agar dunia tidak kembali ke sistem kekuasaan individual. Ia juga membuka kesempatan bagi China untuk menjadi penyeimbang baru dalam politik global.

Strategi Eropa dan Ketergantungan Energi

Sikap Spanyol mencerminkan strategi lebih luas di Eropa. Banyak pemimpin Barat menambahkan komunikasi dengan Beijing, mengingat ketergantungan pada pasokan energi dari Teluk Persia. Kondisi ini memberi China leverage besar untuk memengaruhi deeskalasi, termasuk mendorong Iran menerima gencatan senjata sementara.

Konflik Iran telah membesar sejak serangan militer AS dan Israel beberapa waktu lalu. Kebocoran minyak di Selat Hormuz memperparah situasi, dengan dampak pada perdagangan internasional. Dalam kondisi tersebut, China menyatakan siap menjadi mitra konstruktif untuk meredakan ketegangan dan menjaga stabilitas wilayah.

Kemitraan Global yang Berubah

Pembicaraan damai antara AS dan Iran kini berjalan, meski sebelumnya sempat buntu akibat perbedaan pandangan terkait program nuklir Teheran. Ketika sekutu-sekutu NATO mulai mencari alternatif di luar Washington, China perlahan muncul sebagai tokoh penting dalam menyelesaikan konflik internasional, termasuk perang Iran.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *