New Policy: Breaking News: Trump Umumkan Gencatan Senjata Israel-Lebanon 10 Hari
Breaking News: Trump Umumkan Gencatan Senjata 10 Hari antara Israel dan Lebanon
Jakarta, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan bahwa negara-negara Israel dan Lebanon sepakat melaksanakan gencatan senjata selama sepuluh hari, berlaku efektif pada Kamis (16/4/2026) pukul 17.00 waktu setempat. Kesepakatan ini muncul setelah beberapa hari mediasi yang dilakukan Washington, di tengah meningkatnya ketegangan antara Israel dengan Hizbullah, organisasi yang didukung Iran.
Menurut Gedung Putih, Trump aktif terlibat dalam proses mediasi ini. Ia melakukan panggilan telepon dengan Presiden Lebanon Joseph Aoun serta dua kali bertemu dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Presiden AS juga menyatakan rencana mengundang kedua pemimpin ke Gedung Putih dalam satu hingga dua minggu mendatang.
“Lebanon dan Israel telah sepakat menciptakan kondisi yang mendukung perdamaian abadi,” ujar Departemen Luar Negeri AS, seperti dikutip Reuters, Jumat (17/4/2026). Departemen tersebut menambahkan bahwa kedua negara setuju menghormati kedaulatan masing-masing serta membangun zona keamanan di perbatasan bersama.
Gencatan senjata ini diharapkan menjadi langkah awal menuju kesepakatan jangka panjang, kata Trump. Ia juga menyebut Lebanon setuju mengendalikan Hizbullah, yang selama ini menjadi aktor utama dalam konflik wilayah tersebut. Netanyahu, dari pihak Israel, menyatakan telah menyetujui jeda sepuluh hari dan yakin ada peluang mencapai kesepakatan bersejarah.
Namun, ia menegaskan bahwa pasukan Israel tidak akan ditarik dari Lebanon Selatan dan tetap menjaga “zona keamanan” hingga perbatasan Suriah. Netanyahu kembali menggarisbawahi tuntutan Israel untuk mengakhiri keberadaan Hizbullah.
Hizbullah menolak jika gencatan senjata memungkinkan Israel bebas beroperasi di wilayah Lebanon. Kelompok ini menyatakan bahwa kehadiran militer Israel tetap memberi “hak untuk melawan” kepada Lebanon dan warga negaranya. Konflik memanas sejak 2 Maret, ketika Hizbullah melakukan serangan untuk mendukung Iran, yang kemudian dibalas oleh Israel.
Sejak saat itu, lebih dari 2.100 warga Lebanon dilaporkan tewas, dan sekitar 1,2 juta lainnya terpaksa mengungsi. Dalam periode yang sama, Hizbullah juga menewaskan dua warga sipil Israel dan 13 tentara. Militer Israel telah memasuki wilayah selatan Lebanon hingga Sungai Litani, menghancurkan beberapa desa untuk menciptakan “zona penyangga” melindungi wilayah utara.