New Policy: Tetangga RI Ini Menderita Gegara Perang Iran, Sinyal HP Tak Bisa Hidup

Tetangga RI Ini Menderita Gegara Perang Iran, Sinyal HP Tak Bisa Hidup

Bangladesh kini menghadapi ancaman pemutusan jaringan telekomunikasi dan internet secara masif, berpotensi melumpuhkan layanan komunikasi di hampir seluruh wilayah jika krisis bahan bakar akibat perang Timur Tengah tidak segera teratasi. Peringatan ini disampaikan oleh para operator telekomunikasi pada hari Senin (20/4/2026), yang menyebutkan operasional mereka berada di ambang kehancuran akibat pasokan energi yang terus menipis.

Negara di Asia Selatan dengan populasi 170 juta orang ini mengandalkan 95% kebutuhan minyak dan gas dari Timur Tengah. Kelangkaan bahan bakar telah mengganggu sektor transportasi dan energi, menyebabkan antrean di SPBU yang terus berlangsung hingga 12 jam. Asosiasi Operator Telekomunikasi Seluler Bangladesh (AMTOB) menegaskan bahwa operasi layanan komunikasi tak dapat berjalan tanpa bahan bakar yang memadai, termasuk untuk menjalankan pusat data.

“Situasi ini telah melampaui kemampuan operasional kami,” tulis AMTOB dalam surat resmi yang dikirimkan ke BTRC. Pihak asosiasi memperingatkan bahwa gangguan jaringan telekomunikasi besar-besaran hampir pasti terjadi jika pasokan bahan bakar tak segera pulih.

Pusat data membutuhkan pasokan diesel yang signifikan untuk menjaga fungsi operasional. Dalam data teknis, setiap fasilitas pusat data menghabiskan 500 hingga 600 liter diesel per jam, mencapai 4.000 liter per hari. Namun, SPBU lokal saat ini belum mampu memenuhi kebutuhan tersebut. “Beberapa fasilitas kritis beroperasi dengan stok bahan bakar yang sangat rendah dan rentan,” ungkap AMTOB.

Sekretaris Jenderal AMTOB, Mohammad Zulfikar, menjelaskan bahwa penutupan pusat data akan menimbulkan dampak lanjut ke seluruh sistem komunikasi nasional. “Pemadaman jaringan bisa menghentikan layanan telepon, SMS, internet, dan semua aktivitas komunikasi,” katanya kepada AFP. Zulfikar menekankan bahwa pusat data berperan sebagai pusat pengendalian lalu lintas data, sehingga kegagalan di sana akan mempercepat kecepatan internet atau menghentikannya total.

Pada hari Sabtu, pemerintah Bangladesh meningkatkan harga bahan bakar, termasuk diesel naik 15% dari 100 taka menjadi 115 taka (Rp 15.979) per liter. Harga bensin juga naik 16%, dari 116 taka ke 135 taka (Rp 18.758) per liter. Kenaikan ini memicu protes dari pemilik armada bus dan kapal. Menteri Energi Iqbal Hasan Mahmud membenarkan bahwa langkah ini wajib diambil karena tekanan krisis global.

“Seluruh dunia menyesuaikan harga, termasuk Amerika Serikat,” kata Iqbal Hasan Mahmud kepada wartawan pada hari Minggu. Meski depo minyak diperintahkan menyalurkan bahan bakar lebih banyak ke SPBU, efeknya di lapangan masih terbatas. Pengemudi kendaraan bermotor masih terjebak dalam antrean yang hampir tak bergerak. “Saya menunggu tiga jam tapi hanya mampu maju beberapa meter,” keluh Md Sag.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *