Purbaya Bantah Rupiah Melemah Akibat Ekonomi RI Terpuruk
Purbaya Bantah Rupiah Melemah Akibat Ekonomi RI Terpuruk
Jakarta, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa penurunan nilai tukar rupiah belakangan ini tidak menunjukkan tanda-tanda perlambatan ekonomi nasional. Ia menilai tekanan terhadap mata uang lokal lebih terkait dengan dinamika global dan persepsi yang mungkin tidak selaras dengan kenyataan.
Meski dibandingkan dengan Malaysia dan Thailand, ekonomi Indonesia tetap stabil dan memiliki daya tahan yang baik. Purbaya menekankan bahwa kondisi dalam negeri tidak sedang mengalami krisis, sehingga pelemahan rupiah bukanlah indikator utama dari keadaan ekonomi yang buruk.
Dalam Media Briefing, Jumat (24/4/2026), Purbaya menjelaskan, “Kebisingan ini membuat masyarakat mengira ekonomi kita sedang mengalami penurunan, padahal kondisinya masih bagus.” Menurutnya, isu-isu yang muncul secara sporadis perlu dikelola agar tidak mengganggu kinerja ekonomi.
“Ini kan juga terjadi noice seakan ekonomi kita terpuruk tapi tidak seperti itu,”
Dengan demikian, Purbaya mengungkapkan ketidaktertarikannya untuk mendalami isu pelemahan rupiah secara mendalam. Ia menyerahkan tanggung jawab pengelolaan nilai tukar kepada Bank Indonesia, yang dianggap lebih tepat untuk mengambil langkah-langkah strategis.
Tidak lama setelahnya, rupiah mencapai angka Rp 17.300 per dolar AS, menurut laporan yang dihimpun. Purbaya menambahkan, perubahan nilai tukar rupiah ini menjadi tugas Bank Indonesia untuk mengelola.
Selama kunjungan ke Amerika Serikat, Purbaya menceritakan pengalaman berdiskusi dengan lembaga keuangan dan investor internasional. Salah satu pertanyaan yang diajukan adalah, “Apakah rupiah secara sengaja dilemahkan?”
Purbaya menyangkal tudingan tersebut, menyatakan bahwa rupiah yang melemah justru bisa memicu ekspektasi negatif. “Ekspektasi negatif terbentuk karena banyak pihak menganggap kita akan jatuh, tetapi jika melihat fondamental ekonomi yang kuat, memperbaikinya tidak terlalu sulit,” tambahnya.