Special Plan: Cari Kerja Sekarang Susah Sampai Frustrasi, Ternyata Ada Fenomena Ini
Cari Kerja Sekarang Susah Sampai Frustrasi, Ternyata Ada Fenomena Ini
Dunia usaha di Indonesia tengah menghadapi tantangan yang berkelanjutan di awal tahun 2026. Meski aktivitas produksi masih menunjukkan pertumbuhan, penyerapan tenaga kerja belum mengalami peningkatan signifikan. Banyak perusahaan memilih untuk mengandalkan efisiensi internal daripada memperluas rekrutmen, terutama dalam suasana ekonomi yang tidak stabil. Fenomena ini terlihat dari laporan Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) Bank Indonesia.
Menurut data SKDU, nilai Saldo Bersih Tertimbang (SBT) kegiatan usaha pada kuartal I-2026 mencatatkan angka 10,11%, turun dibandingkan kuartal IV-2025 yang sebesar 10,61%. Di sisi industri manufaktur, indeks Produksi Manufaktur (PMI) Bank Indonesia menunjukkan pertumbuhan 52,03%, naik dari 51,86% pada kuartal sebelumnya. Namun, penyerapan tenaga kerja dalam sektor ini justru masih terjadi di zona kontraksi, yakni 48,76%. Fenomena ini telah berlangsung sejak kuartal II-2025.
Kinerja usaha yang diumumkan Bank Indonesia dalam kuartal I-2026 bersifat post-factum dan musiman, karena dipengaruhi oleh momentum konsumsi seperti akhir tahun, Imlek, Ramadan, serta Lebaran. Perusahaan manufaktur umumnya melakukan ekspansi produksi sesuai dengan permintaan sementara, sehingga tidak langsung menciptakan lapangan kerja permanen,” jelas Shinta Widjaja Kamdani, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) kepada CNBC Indonesia, Selasa (21/4/2026).
Shinta menjelaskan bahwa faktor musiman menjadi penyebab utama pertumbuhan produksi tidak berdampak pada penyerapan tenaga kerja. “Ekspansi yang terjadi saat ini lebih bersifat sementara, sehingga perusahaan enggan menambah karyawan secara permanen karena kebutuhan produksi akan berkurang setelah momentum musiman berakhir,” tambahnya.
Kondisi pasar selama setahun terakhir, baik lokal maupun global, juga memberi tekanan pada keputusan rekrutmen perusahaan. “PMI menunjukkan bahwa tekanan ekonomi, seperti dampak tarif resiprokal AS, cukup mengurangi daya beli konsumen dan berdampak pada kebutuhan tenaga kerja,” kata Shinta. Hal ini membuat pelaku usaha lebih hati-hati dalam memperkirakan jumlah karyawan yang dibutuhkan.
Ketidakpastian ekonomi dan beban operasional yang meningkat memperkuat kecenderungan perusahaan menahan ekspansi tenaga kerja. Selain itu, biaya karyawan di sektor formal yang tinggi juga menjadi pertimbangan. “Beban PHK dan pesangon yang muncul saat kebutuhan tenaga kerja berkurang bisa menjadi beban signifikan bagi bisnis,” paparnya.
Dalam kondisi ini, perusahaan lebih memilih untuk mengoptimalkan sumber daya yang sudah ada dibanding menambah karyawan secara besar-besaran. “Penciptaan lapangan kerja lambat karena perusahaan fokus pada efisiensi biaya dan intensifikasi penggunaan sumber daya yang ada, bukan ekspansi atau akuisisi karyawan yang belum bisa dipertahankan secara ekonomi,” lanjut Shinta.
Hal serupa juga disampaikan oleh Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Erwin Aksa. “Dunia usaha telah merasakan tekanan dalam beberapa kuartal terakhir, termasuk kuartal I-2026 yang cukup mengkhawatirkan,” ujarnya. Tren kontraksi tenaga kerja terus berlanjut, dengan kebutuhan karyawan yang lebih stabil dibanding fluktuasi musiman.