Special Plan: Kelakuan AS-Israel Disorot Rusia, Awas Ancaman Operasi Darat ke Iran
Kelakuan AS-Israel Disorot Rusia, Awas Ancaman Operasi Darat ke Iran
Dewan Keamanan Rusia mengeluarkan peringatan mengenai kemungkinan operasi darat yang akan dilakukan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran. Pernyataan ini muncul saat negosiasi antara Washington dan Teheran masih berlangsung. Badan yang dipimpin oleh Presiden Rusia Vladimir Putin tersebut menyatakan bahwa pembicaraan damai bisa dimanfaatkan sebagai kesempatan untuk mengatur langkah militer.
“AS dan Israel dapat menggunakan pembicaraan damai sebagai celah untuk mempersiapkan operasi darat terhadap Iran,”
demikian pernyataan yang dikutip oleh RT, Selasa (16/4) waktu setempat.
Rusia menilai penguatan kehadiran militer Pentagon di Timur Tengah menunjukkan tanda-tanda eskalasi konflik. Meski jalur diplomasi masih terbuka, negara-negara tersebut terus meningkatkan pasukan. Pernyataan ini muncul setelah serangan gabungan AS-Israel terhadap Iran pada 28 Februari, yang terjadi saat perundingan program nuklir masih berlangsung. Sebelumnya, Israel juga melakukan serangan terhadap fasilitas nuklir Iran pada bulan Juni, memicu perang 12 hari.
Perundingan pertama antara AS dan Iran di Islamabad, Pakistan, berakhir tanpa kesepakatan. Teheran menyalahkan “tuntutan tidak realistis” dari Washington atas kegagalan itu, namun tetap membuka peluang diskusi lanjutan. Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa pembicaraan berikutnya bisa digelar segera, dan menegaskan tidak akan memperpanjang gencatan senjata dua minggu yang berakhir 22 April.
“Konflik ini bisa berakhir dengan cara apa pun, tetapi saya pikir kesepakatan lebih baik,”
ujar Trump dalam wawancara dengan ABC News.
Iran menegaskan preferensi penyelesaian konflik secara permanen, bukan hanya perpanjangan gencatan senjata. Teheran meminta jaminan keamanan, pencabutan sanksi, serta hak untuk melanjutkan pengayaan uranium demi tujuan damai. Ketua parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf memperingatkan siapnya negara tersebut menghadapi ancaman invasi darat.
“Iran siap menghadapi serangan darat dan akan menghujani musuh dengan tembakan,”
katanya.
Dewan Keamanan Rusia menilai meski tekanan meningkat, kondisi internal Iran tetap stabil. Pemerintah dan militer Iran disebut masih solid, didukung oleh peningkatan kepercayaan publik sejak serangan terakhir satu setengah bulan lalu. Rusia mengingatkan bahwa jika perundingan kembali gagal, ancaman militer berpotensi meningkat signifikan dalam waktu singkat.
“Permusuhan dapat berlanjut dengan intensitas lebih besar setelah dua minggu jika negosiasi tidak mencapai kesepakatan,”
lanjut pernyataan tersebut.
Dalam konteks ini, Iran juga bersiap menyerang infrastruktur energi di negara-negara Teluk jika konflik meluas. Pernyataan Rusia mengingatkan bahwa pembicaraan damai bisa menjadi alat untuk memicu serangan militer, terutama dalam situasi yang kritis.