Special Plan: Moody’s Umumkan Peringkat Kredit Utang RI, Begini Posisi Terbaru
Moody’s Umumkan Peringkat Kredit Utang RI, Begini Posisi Terbaru
Moody’s, lembaga pemeringkat utang internasional, telah merilis penilaian terbaru terhadap kredit Indonesia dan beberapa negara Asia Tenggara. Hasilnya, peringkat utang Indonesia tetap dijaga pada level Baa2, satu tingkat di atas batas investment grade. Namun, outlook rating yang sebelumnya stabil kini berubah menjadi negatif.
Di sisi lain, Filipina juga menerima peringkat Baa2, tetapi outlooknya tetap stabil. Sementara Thailand, dalam pengumuman 23 April 2026, diberi peringkat Baa1, yang lebih baik dari Indonesia dan Filipina, dengan outlooknya beralih dari negatif ke stabil.
Perbandingan dengan Negara-Negara Lain
Rating tertinggi diberikan kepada Singapura dengan peringkat Aaa dan outlook stabil. Malaysia mengikuti dengan A3, sementara Laos mendapat Caa2 yang kategorinya berisiko tinggi, meski outlooknya tetap stabil. Kamboja dan Vietnam berada di level B2 dan Ba2, dengan outlook stabil.
Dengan komitmen dan konsistensi kebijakan, Pemerintah optimis dapat mempercepat pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dan kesejahteraan rakyat,” sebagaimana tertera dalam rilis Kementerian Keuangan.
Pemerintah Indonesia menyambut baik hasil penilaian Moody’s yang mempertahankan peringkat Baa2, meski outlooknya diubah menjadi negatif. Dalam siaran pers sejak 5 Februari 2026, pihaknya menegaskan terus melakukan transformasi ekonomi serta mengoptimalkan sinergi fiskal dan Danantara.
Moody’s, sebagai institusi independen, menilai risiko kredit suatu negara atau perusahaan. Mereka mengukur kemampuan penerbit utang untuk membayar pokok dan bunga tepat waktu. Hasilnya dituangkan dalam dua indikator utama: rating dan outlook.
Kategori investment grade menunjukkan risiko gagal bayar yang relatif rendah, sehingga dianggap layak untuk investasi oleh lembaga keuangan besar. Sementara speculative grade, atau junk, memiliki risiko lebih tinggi, memaksa investor menuntut imbal hasil yang lebih besar. Saat ini, Indonesia, Malaysia, dan Singapura berada di level investment grade.
Peringkat kredit ini menjadi patokan penting bagi investor institusi, seperti manajer dana pensiun atau reksa dana obligasi. Jika negara memiliki rating kuat, basis investornya cenderung lebih luas dan biaya pendanaan lebih murah.