Key Issue: Gus Lilur: Muktamar NU 2026 titik balik pulihkan kepercayaan publik
Gus Lilur: Muktamar NU 2026 Jadi Titik Balik Pemulihan Kepercayaan Publik
Dari Jakarta, Gus Lilur, tokoh muda NU, menekankan bahwa Muktamar NU 2026 menjadi momentum kritis untuk memulihkan kepercayaan publik. Ia meminta organisasi tersebut kembali menegaskan prinsipnya dan menjadikan kegiatan itu sebagai penghalang untuk kepemimpinan yang bersih. “Kalau peluang ini tidak dimanfaatkan, NU bisa kehilangan basis moral yang selama ini menjadi kekuatannya,” ujarnya dalam pernyataan yang diterima pada Jumat.
Integritas Pemimpinan Jadi Prioritas
Gus Lilur menekankan bahwa Muktamar tidak cukup disebut sebagai forum perebutan kepemimpinan, tetapi harus dianggap sebagai pengarah arah moral NU. Menurutnya, krisis kepercayaan yang terjadi di PBNU kini sangat nyata, khususnya terkait manajemen tata kelola haji, termasuk kuota, katering, penginapan, dan layanan pendamping. Meski proses hukum masih berlangsung, ia menilai isu ini sudah menggoyahkan persepsi masyarakat. “Muktamar harus menjadi mekanisme perbaikan, bukan sekadar reproduksi kekuasaan,” imbuhnya dalam kutipan yang disampaikan.
NU sebagai Jaringan Sosial yang Menopang Moral
Dalam perspektif ilmu sosial, Gus Lilur mengatakan NU bukan hanya organisasi keagamaan, melainkan jaringan sosial yang menjaga integritas publik. Jika kepercayaan masyarakat terganggu, dampaknya tidak hanya padaNU, tetapi juga pada kesatuan sosial yang lebih luas. “Muktamar harus dimulai dengan upaya memulihkan kepercayaan, dan pemulihan itu tidak mungkin tercapai tanpa integritas,” tegasnya dalam pernyataan yang sama.
Proses Pemilihan Kepemimpinan di NU
Di sisi lain, Gus Lilur menyampaikan bahwa sosok yang layak memimpin NU tidak dibatasi oleh latar belakang organisasi. Yang terpenting, calon pemimpin harus memiliki komitmen terhadap nilai NU dan integritas yang terbukti. Ia menilai pendekatan ini sesuai dengan prinsip meritokrasi, di mana legitimasi kepemimpinan ditentukan oleh kualitas dan kejujuran, bukan hanya identitas.
Penyelenggaraan Muktamar Ke-35 NU
Sementara itu, terkait penyelenggaraan Muktamar Ke-35 NU yang dijadwalkan pada Agustus 2026, Sekretaris Jenderal PBNU Saifullah Yusuf alias Gus Ipul menjelaskan bahwa beberapa persiapan sudah dilakukan. Pihaknya telah menetapkan kepanitiaan inti Muktamar melalui kesepakatan Rais Aam KH Miftachul Akhyar dan Ketua Umum KH Yahya Cholil Staquf. “Kita terus mempersiapkan segala sesuatu, dan Insya Allah semua bisa berjalan lancar,” kata Gus Ipul kepada wartawan di Jakarta pada Kamis (16/4).
Menurut Gus Ipul, seluruh prosedur peserta Muktamar dan pencalonan ketua umum sudah diatur jelas dalam AD/ART PBNU serta peraturan tambahan. “Siapa saja yang memenuhi syarat sebagai peserta dan calon ketua umum sudah tercantum dalam dokumen-dokumen tersebut, dan tim juga sudah dibentuk untuk menuntaskan seluruh SK dan keputusan yang dibutuhkan,” tambahnya.
“Karena itu, sebelum membicarakan siapa yang akan memimpin, NU perlu memastikan satu hal bahwa kepemimpinan itu bersih,” tutur Gus Lilur.
“Karena itu, Muktamar NU harus dimulai dari upaya memulihkan kepercayaan. Dan pemulihan itu tidak mungkin dilakukan tanpa integritas,” tambahnya.