Komisi I DPR minta PBB evaluasi perlindungan pasukan UNIFIL
Komisi I DPR Minta PBB Evaluasi Pengamanan Pasukan UNIFIL
Jakarta – Sukamta, anggota Komisi I DPR RI, mengusulkan kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk melakukan peninjauan mendalam terhadap sistem perlindungan pasukan perdamaian di misi United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL). Ia menilai evaluasi ini penting agar selaras dengan ancaman nyata yang terjadi di lapangan.
Sukamta: Perlindungan Prajurit Harus Prioritas Utama
Dalam pernyataannya di Jakarta, Sabtu, Sukamta menegaskan bahwa pengamanan personel PBB yang menjalankan tugas perdamaian tidak boleh diabaikan, termasuk oleh pihak-pihak yang terlibat konflik. Ia juga mengingatkan perlunya investigasi transparan dan akuntabel terkait insiden kematian Praka Rico Pramudia akibat serangan peluru kendali.
“Kami memandang bahwa perlindungan terhadap personel PBB harus menjadi prioritas utama dan tidak boleh diabaikan oleh pihak mana pun, termasuk dalam dinamika konflik yang melibatkan Israel dan aktor lainnya di kawasan,” ujarnya.
Sukamta menekankan bahwa kematian prajurit dalam misi UNIFIL harus menjadi perhatian serius, terutama karena markas misi sering menjadi target serangan. Ia mengatakan situasi di lapangan telah melihat peningkatan ancaman yang signifikan, sehingga mengurangi keamanan bagi pasukan perdamaian.
Indonesia Harus Tinjau Kesiapan dan Penugasan Prajurit
Legislator dari daerah pemilihan Yogyakarta tersebut juga meminta pemerintah Indonesia melakukan tinjauan menyeluruh terhadap keamanan dan metode penugasan prajurit setelah kejadian kematian Praka Rico. “Pemerintah perlu memastikan kesiapan, keamanan, dan penugasan prajurit dalam misi perdamaian tetap terjaga,” katanya.
“Pemerintah Indonesia perlu melakukan peninjauan komprehensif terhadap aspek keamanan, kesiapan, dan pola penugasan prajurit dalam misi perdamaian, tanpa mengurangi komitmen Indonesia sebagai kontributor aktif dalam menjaga stabilitas global,” tuturnya.
Sukamta menyampaikan duka cita atas kematian Praka Rico Pramudia, yang merupakan prajurit TNI terbaik dalam misi UNIFIL. Ia menilai pengorbanan tersebut mencerminkan komitmen Indonesia terhadap perdamaian global. “Semoga para prajurit yang gugur mendapatkan tempat terbaik di sisi Tuhan, serta keluarga diberikan ketabahan,” pungkasnya.
Diketahui, Rico meninggal setelah menjalani perawatan di Lebanon akibat ledakan peluru kendali di markas UNIFIL pada Rabu (29/3) lalu. Insiden tersebut meningkatkan rasa sedih bagi Indonesia, di mana total prajurit TNI yang gugur di Lebanon mencapai empat orang. Selain Rico, tiga nama lainnya adalah Mayor Infanteri Anumerta Zulmi Aditya Iskandar, Serka Anumerta Muhammad Nur Ichwan, dan Kopda Anumerta Farizal Rhomadhon.