Special Plan: Masih Cuankah Berinvestasi Mata Uang Asing di Tengah Gejolak Dunia?
Masih Cuankah Berinvestasi Mata Uang Asing di Tengah Gejolak Dunia?
Dalam kondisi ketidakstabilan ekonomi global, mata uang asing (valas) kembali menjadi pilihan investor domestik sebagai tempat penyimpanan nilai yang aman. Namun, fluktuasi tukar nilai mata uang asing semakin tinggi, termasuk tekanan terhadap rupiah. Situasi ini menciptakan pertimbangan antara peluang keuntungan dan risiko yang mungkin terjadi.
Strategi Investasi Valas Menurut Perencana Keuangan
Para perencana keuangan memberikan panduan untuk memutuskan apakah investasi valas tetap relevan. Salah satu saran mereka adalah memilih valas berdasarkan tujuan keuangan masing-masing. Bagi investor yang ingin bertrading secara aktif, Ahmad Gozali dari Zielts Consulting menyarankan penggunaan forward contract. “Trading bisa dilakukan karena ada kenaikan dan penurunan, sehingga bisa mengambil keuntungan dari sisi jual maupun beli,” katanya kepada CNNIndonesia.com, Jumat (17/4).
“Trading bisa dilakukan karena ada kenaikan dan penurunan, sehingga bisa mengambil keuntungan dari sisi jual maupun beli,” ujar Ahmad.
Menurut Ahmad, investasi aktif lebih cocok bagi mereka yang memiliki waktu, kompetensi, dan modal besar. Sementara itu, investor yang memilih pendekatan pasif bisa membeli valas secara fisik atau melalui rekening valas di pasar spot. “Ini disarankan khusus untuk kebutuhan masa depan seperti umroh, haji, traveling, atau pendidikan anak,” tambahnya.
Berbeda dengan pendapat Ahmad, Tejasari Assad dari Tatadana Consulting menekankan pentingnya mengamati momentum saat memasuki pasar. “Saat ini USD mengalami peningkatan cukup tinggi dibandingkan sebelumnya, tapi jika masuk sekarang, harganya sudah tinggi. Jadi, perlu hati-hati,” jelas Tejasari.
“Saat ini USD mengalami peningkatan cukup tinggi dibandingkan sebelumnya, tapi kalau kita masuk saat ini, bisa dibilang nilainya sudah tinggi. Artinya kalau kita masuk saat ini, maka harganya sudah tinggi,” kata Tejasari.
Tejasari juga menyoroti faktor-faktor lain yang memengaruhi keputusan investasi. Salah satunya adalah tekanan kurs yang meningkat karena banyak investor beralih ke USD akibat suku bunga global tinggi. “Banyak orang memilih mata uang kuat, tapi jika kondisi berubah, mereka mungkin beralih ke pilihan lain,” katanya.
Kedua perencana keuangan sepakat bahwa diversifikasi adalah kunci untuk mengurangi risiko. Ahmad mengatakan investor bisa mempertimbangkan alternatif seperti SGD atau Yuan. “USD umumnya dipilih, tapi sekarang mungkin opsi lebih luas, seperti SGD atau Yuan,” imbuh Ahmad.
Tejasari menambahkan bahwa mata uang seperti Euro, Yen, SGD, CNY, AUD, dan CAD bisa menjadi pilihan yang lebih seimbang. “Investor sebaiknya tidak hanya bergantung pada satu jenis valas, karena setiap mata uang memiliki kelebihan dan kelemahan,” terangnya. Diversifikasi ini bertujuan untuk mengimbangi risiko dari perekonomian negara tertentu dan pergerakannya dalam masa krisis.
Dengan kondisi ekonomi yang dinamis, investor harus terus memantau perspektif negara-negara tujuan. Ahmad juga memproyeksi Yuan sebagai pilihan stabil ke depan, mengingat China dianggap sebagai negara adidaya ekonomi berikutnya.