Historic Moment: Ngeri! FAO Ungkap Cuaca Ekstrem Bisa Rusak Panen Dunia
Ngeri! FAO: Cuaca Ekstrem Ancam Produksi Pertanian Global
Laporan terbaru dari Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) serta Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) mengungkapkan dampak serius cuaca ekstrem terhadap pertanian di seluruh dunia. Dalam laporan yang dirilis 22 April 2026, FAO menekankan bahwa panas yang terlalu tinggi bisa mengganggu proses panen, aktivitas pertanian, dan kehidupan masyarakat petani.
Kondisi Ekstrem Menyebabkan Kerusakan Banyak Sektor
FAO mencatat lebih dari 1 miliar orang di seluruh dunia terancam oleh gelombang panas yang ekstrem. Efeknya langsung terasa pada kemampuan kerja manusia, kesehatan hewan ternak, dan pertumbuhan tanaman. Tahunan, sekitar 500 miliar jam kerja hilang karena suhu tinggi yang mengganggu produktivitas di lapangan.
Sektor pertanian paling terpukul karena sebagian besar kegiatannya dilakukan di bawah sinar matahari dengan perlindungan terbatas. Suhu di atas 30 derajat Celsius bisa mengurangi hasil panen berbagai komoditas utama. Proses metabolisme tanaman terganggu, termasuk kerusakan dinding sel, penurunan kesuburan serbuk sari, dan peningkatan racun oksidatif.
Contoh Dampak di Wilayah Tertentu
Di Fergana Mountains, Kyrgyzstan, musim semi 2025 mencatat suhu mencapai 30,8 derajat Celsius, sekitar 10 derajat di atas rata-rata normal. Gandum dan tanaman buah mengalami kejutan termal, menyebabkan penurunan panen serealia hingga 25%.
Kasus serupa terjadi di Brasil, di mana suhu rata-rata mencapai 7 derajat Celsius di atas normal selama periode panjang. Hasil kedelai turun hingga 20%. Di kawasan lain, seperti Amerika Serikat, Rusia, Australia, China, dan Brasil, kekeringan mendadak atau flash drought muncul karena tanah kehilangan kelembapan dengan cepat.
Strategi Menghadapi Cuaca Ekstrem
FAO menyarankan langkah pencegahan seperti sistem peringatan dini untuk membantu petani. Misalnya, informasi cuaca yang diberikan beberapa hari sebelumnya memungkinkan perubahan jadwal tanam, penambahan mulsa, atau perpindahan waktu irigasi ke pagi atau malam. Di Kamboja, proyek penggunaan stasiun cuaca dan aplikasi ponsel telah memandu 450 ribu petani dalam mengatur praktik pertanian.
Kelompok ternak juga terkena dampak serius. Suhu di atas 25 derajat Celsius memicu stres pada hewan, terutama ayam dan babi yang tidak berkeringat. Perubahan perilaku seperti mencari tempat teduh, minum lebih banyak, dan makan sedikit dapat mengurangi kapasitas produksi susu sapi perah.
Ekosistem Laut Terancam oleh Suhu Tinggi
Dalam perairan, panas ekstrem memengaruhi ketersediaan oksigen. Air yang lebih hangat memiliki kapasitas penyimpanan oksigen rendah, memaksa ikan bekerja lebih keras untuk bernapas. FAO mencatat 91% lautan dunia mengalami setidaknya satu gelombang panas laut sepanjang 2024. Kondisi ini berisiko menyebabkan kegagalan jantung pada ikan.
Perubahan iklim semakin mengancam. Sistem pangan global terus berada di ambang krisis akibat peningkatan frekuensi, intensitas, dan durasi gelombang panas. Dengan pemanasan global hingga 2 atau 3 derajat Celsius, risiko kejadian panas ekstrem bisa meningkat dua atau empat kali lipat dibandingkan tingkat 1,5 derajat Celsius.