Key Discussion: Mata Dunia-Jepang ke Selat Malaka, Jalur yang Lebih Sibuk dari Hormuz
Mata Dunia: Jepang Memperhatikan Selat Malaka, Jalur Pelayaran yang Lebih Padat dari Hormuz
Perhatian global mulai tertuju pada Selat Malaka, terutama setelah konflik Timur Tengah antara Amerika Serikat dan Iran memperlihatkan rentan-nya sistem distribusi energi internasional. Jalur laut yang berbatasan langsung dengan Indonesia ini terus menjadi topik pembahasan, baik di dalam maupun luar negeri, karena peran pentingnya dalam menghubungkan produsen minyak dengan konsumen utama di Asia.
Indonesia dan Kebijakan Lalu Lintas Kapal
Di dalam negeri, isu Selat Malaka memanas setelah Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyebut kemungkinan dikenakannya tarif pada kapal yang melewati jalur tersebut. Namun, pernyataan itu segera diperjelas oleh Menteri Luar Negeri Sugiono, yang menegaskan bahwa Indonesia tidak berkebijakan pajak terhadap pelayaran internasional. Pemerintah juga menekankan komitmen terhadap hukum laut internasional, termasuk kebebasan navigasi di wilayah laut strategis.
“Indonesia memiliki peran vital karena secara geografis berdekatan langsung dengan bagian terluas Selat Malaka,” kata Mitsuru Myochin, Charge de Affaris Kedutaan Besar Jepang di Jakarta.
Myochin menilai posisi Indonesia semakin strategis dalam menjaga kestabilan kawasan setelah pemerintah menyatakan sikap tetap mendukung jalur pelayaran internasional. Pernyataan Jepang tersebut didasari oleh pengamatan bahwa Selat Malaka dan Hormuz sama-sama menjadi jalur utama distribusi energi global. Kedua titik lewat ini memiliki pengaruh besar terhadap rantai pasokan minyak.
Perbandingan Dua Jalur Strategis
Dalam perdagangan minyak global, Selat Malaka dan Hormuz sering disebut sebagai chokepoint. Istilah ini merujuk pada jalur utama yang menjadi sarana distribusi energi internasional. Karena bentuknya sempit dan sulit digantikan, gangguan di kawasan ini langsung memengaruhi kekhawatiran pasar, baik dari konflik geopolitik maupun kejadian tak terduga seperti kecelakaan kapal.
Berdasarkan data U.S. Energy Information Administration (EIA), sekitar 73 juta barel minyak per hari melewati berbagai chokepoint utama. Dari jumlah tersebut, Selat Malaka dan Hormuz mendominasi. Pada paruh pertama 2025, 23,2 juta barel minyak per hari melewati Selat Malaka, yang setara dengan 29,1% dari total perdagangan minyak dunia melalui jalur laut. Sementara Selat Hormuz mengalirkan sekitar 20,9 juta barel per hari, atau 20% dari konsumsi global.
Secara volume, Selat Malaka lebih padat dibanding Hormuz. Namun dari segi risiko geopolitik, Hormuz dianggap lebih rentan karena letaknya di kawasan Timur Tengah yang sering terjadi konflik. Data dari Marine Department Malaysia menunjukkan lebih dari 102.500 kapal melintasi Selat Malaka pada 2025, naik dari 94.300 kapal pada 2024. Rata-rata, ada sekitar 280 kapal per hari yang melewati jalur ini.
Kemacetan kapal di Selat Malaka menunjukkan kepadatannya dibanding Hormuz. Jepang menganggap ini sebagai keuntungan strategis bagi Indonesia, yang posisinya menjadi penghubung penting antara produsen dan konsumen energi Asia. Dengan kondisi tersebut, perbandingan antara dua selat ini terus relevan dalam analisis stabilitas perekonomian global.