Key Strategy: Aneh! Harga Batu Bara Ambles Padahal Dibanjiri Kabar Baik

Aneh! Harga Batu Bara Terus Turun Meski Ada Kabar Positif

Jakarta, harga batu bara masih mengalami penurunan meski sejumlah indikator menunjukkan perkembangan baik. Berdasarkan data Refinitiv, harga batu bara kontrak Mei pada perdagangan Senin (20/4/2026) ditutup di US$ 120,4 per ton, turun 1,67% dari hari sebelumnya. Penurunan ini memperpanjang tren negatif, di mana harga batu bara tercatat ambruk 4,3% dalam dua hari berturut-turut.

Kabar positif seperti kenaikan harga minyak tidak cukup mendorong kenaikan harga batu bara. Di China, negara tersebut kembali menggerakkan proyek konversi batu bara menjadi gas tahun ini. Proyek Fuxin, yang bernilai US$3,7 miliar, sempat dimulai pada 2011 tetapi dihentikan tiga tahun kemudian karena masalah lingkungan, biaya tinggi, serta kendala teknis dan logistik. Kini proyek itu kembali dilanjutkan karena kondisi pasar dianggap lebih menguntungkan.

Gangguan pasokan gas dari kawasan Teluk mendorong China mencari alternatif energi lokal. Saat ini, sekitar 13 proyek batu bara ke gas sedang dibangun atau direncanakan. Jika semua rampung, kapasitas gas sintetis China bisa meningkat tujuh kali lipat menjadi lebih dari 52 miliar meter kubik, setara 12% dari pasokan gas nasional menurut OilChem.

Di samping itu, China diperkirakan akan mengoperasikan 85 unit PLTU baru tahun ini, dari total 104 proyek global versi Global Energy Monitor. Batu bara juga digunakan untuk produksi gas, bahan bakar cair, dan bahan kimia. Namun, harga batu bara termal di sana tetap stabil karena didukung dua faktor utama: potensi restocking oleh pembangkit listrik dan mahalnya batu bara impor.

“Jika harga gas melebihi €70 per megawatt-jam, mungkin perlu mengaktifkan kembali pembangkit listrik berbahan bakar batu bara,” kata Menteri Lingkungan dan Keamanan Energi Gilberto Pichetto Fratin kepada wartawan di acara Holy Grail of Energy di Milan, dikutip dari Reuters.

Kebijakan tersebut mengungkapkan bahwa Italia mungkin kembali menggunakan batu bara jika kebutuhan energi menjadi darurat. “Itu angka yang tinggi. Saat ini harganya sekitar €40… Kami sedang membicarakan skenario darurat, bukan kondisi normal bisnis. Batu bara tetap menjadi solusi terakhir, tetapi kami harus siap jika diperlukan,” imbuh Pichetto Fratin.

Italia memiliki empat pembangkit listrik tenaga batu bara. Dua di antaranya masih aktif di Sardinia, sedangkan dua lainnya telah dimatikan tetapi belum dibongkar. Pembangkit di Civitavecchia dan Brindisi bisa dihidupkan kembali bila diperlukan setelah melalui serangkaian prosedur teknis dan administratif.

Perang Iran beberapa waktu lalu mempercepat keputusan pemerintah Italia untuk menunda penutupan permanen seluruh PLTU batu bara hingga 2038. Penyesuaian ini diharapkan bisa memastikan stabilitas pasokan energi dalam jangka panjang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *