Meeting Results: Dunia Dikepung Kabar Genting Saat Hormuz Memanas, Harga Minyak Terbang
Dunia Dikepung Kabar Genting Saat Hormuz Memanas, Harga Minyak Terbang
Pasar Saham dan Rupiah di Pekan Lalu
Pasar keuangan Tanah Air mengalami fluktuasi signifikan pada perdagangan minggu lalu. Bursa saham menguat, namun nilai tukar rupiah terpantau melemah. Meski ketegangan geopolitik di Timur Tengah sedang mereda, kebijakan suku bunga dan data ekonomi domestik akan menjadi faktor utama yang memengaruhi pasar dalam beberapa hari ke depan.
Kinerja Indeks dan Penyumbang Utama
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami kenaikan signifikan sepanjang minggu ini, ditutup di level 7.634,00 pada Jumat (17/4/2026). Penguatan ini didorong oleh kenaikan saham-saham dalam ekosistem Grup Barito. PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) menjadi kontributor terbesar, naik 14,22% ke Rp6.625 per saham dan memberi dampak 30,44 poin. PT Barito Pacific Tbk (BRPT) juga mencatat kenaikan 16,45% ke Rp2.230 per saham, menyumbang 17,72 poin. Sementara PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) melonjak 18,22% ke Rp1.590, berkontribusi 9,80 poin.
Reli Saham Lapis Dua dan Tiga
Selain perusahaan dari Grup Barito, saham konglomerasi lainnya ikut mendorong reli IHSG. PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) menguat 48,65% dan menambah 8,11 poin. Dari Grup Sinarmas, PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) naik 4,5% dengan kontribusi 12,34 poin. Di sisi lain, beberapa saham lapis dua dan tiga juga mencatat kenaikan tajam, mencerminkan kekuatan sentimen spekulatif di pasar.
Faktor Penekan Rupiah
Sementara itu, rupiah tertekan di akhir pekan lalu, ditutup di Rp17.180/US$ dengan koreksi 0,32%. Ini menjadi penutupan terlemah sepanjang masa. Pelemahan rupiah dalam sepekan mencapai 0,55%, dipengaruhi oleh penguatan dolar AS secara global yang menekan mata uang negara lain, termasuk rupiah.
Bursa Efek Indonesia (BEI) juga mencatat dua saham yang melonjak lebih dari 200% selama minggu lalu. PT Danasupra Erapacific Tbk (DEFI) menjadi top gainers, melesat 226% ke Rp163 per saham. Posisi kedua ditempati PT BSA Logistics Indonesia Tbk (WBSA) yang naik 203,10% ke Rp685 per saham.
Di sisi lain, saham dari konglomerasi Harry Tanoe mengalami penurunan tajam. Saham MNC Digital (MSIN) merosot 29,55% menjadi Rp930 per helai dari Rp1.320. Lonjakan IHSG tidak berdampak pada rupiah, yang terus tertekan di bawah tekanan eksternal.
“Tekanan terhadap rupiah datang dari hampir semua arah: arus keluar modal di obligasi Indonesia, minimnya amunisi bank sentral, dan fakta bahwa negara ini adalah eksportir energi bersih di tengah situasi geopolitik yang sangat tidak pasti,” kata Glenn Yin, direktur riset di broker ACCM, dikutip dari Reuters.
Pergerakan Wall Street dan Harga Minyak
Wall Street mengalami penguatan setelah Selat Hormuz dibuka, yang memicu kenaikan harga minyak. Indeks S&P 500 Index naik 1,2% ke 7.126,06, menyentuh level 7.100 untuk pertama kalinya dalam sejarah. Indeks Nasdaq Composite juga menguat 1,52% ke 24.468,48, mencatat rekor kenaikan hari ke-13 berturut-turut. Dow Jones Industrial Average melonjak 868,71 poin atau 1,79% ke 49.447,43, sementara Russell 2000 mencatatkan peningkatan lebih dari 2%.
Kenaikan pasar saham AS menunjukkan optimismisme investor terhadap pergerakan IHSG yang kembali menanjak. Namun, keadaan ini tidak menghentikan pelemahan rupiah, yang terus berlanjut di tengah ketidakpastian global.