Meeting Results: Harga Minyak Dunia Naik 16% Sepekan, Menanti Arah Nasib Selat Hormuz
Harga Minyak Dunia Naik 16% Sepekan, Menanti Arah Nasib Selat Hormuz
Dalam satu minggu terakhir, harga minyak dunia mengalami fluktuasi signifikan. Pasar masih dipengaruhi oleh dua faktor utama: ancaman gangguan pasokan dari Timur Tengah dan kemungkinan dimulainya kembali perundingan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Berdasarkan data Refinitiv, harga minyak mentah Brent ditutup pada US$105,33 per barel pada Jumat (24/4/2026), naik US$0,26 atau sekitar 0,3%. Sementara itu, harga West Texas Intermediate (WTI) ditutup di US$94,40 per barel, turun US$1,45 atau sekitar 1,5%. Meski kinerja kedua jenis minyak berbeda, kenaikan harga mingguan tetap tercatat. Dalam sepekan, Brent melonjak sekitar 16%, sedangkan WTI naik hampir 13%.
Kenaikan harga sempat terhenti di awal perdagangan Jumat karena kekhawatiran meningkat terkait eskalasi militer di Timur Tengah. Peristiwa ini dipicu oleh pemerintah Iran yang merilis video perwakilan militer menaiki kapal kargo di Selat Hormuz. Jalur ini menjadi area kritis bagi distribusi energi global. Sebelum konflik, sekitar 20% produksi minyak dunia melewati selat tersebut, tetapi kini navigasi terganggu dan belum kembali stabil. Data terkini menunjukkan hanya lima kapal, termasuk satu kapal tanker dari Iran, yang melintasi Selat Hormuz dalam 24 jam terakhir.
“Iran berencana mengajukan tawaran untuk memenuhi tuntutan AS,” kata Presiden AS Donald Trump, yang menyebutkan utusan khususnya, Steve Witkoff dan Jared Kushner, dikirim ke Pakistan untuk bertemu dengan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi. Diperkirakan Araqchi akan tiba di Islamabad pada Jumat malam untuk membahas kemungkinan perundingan damai. Pernyataan ini menguatkan harapan pasar akan peningkatan dialog, meskipun situasi di lapangan tetap tidak menentu.
Meski ada optimisme, kondisi pasar tetap cemas. Trump menyebut Iran sempat meningkatkan persenjataan selama masa gencatan senjata dua minggu, tetapi menegaskan kemampuan militer AS untuk menghancurkannya dalam sehari. Ia juga menawarkan perpanjangan gencatan senjata tanpa batas waktu untuk memastikan perundingan berjalan lancar. Arah harga minyak dalam pekan depan akan bergantung pada perkembangan diplomasi dan kondisi Selat Hormuz.
Jika perundingan AS-Iran gagal dan konflik kembali memanas, harga minyak berisiko kembali melonjak. Sebaliknya, jika perundingan berhasil, tekanan terhadap harga kemungkinan berkurang. Beberapa pelaku pasar menilai Brent dan diesel paling rentan terhadap perubahan situasi perang. Jika hingga akhir April perundingan tidak menunjukkan kemajuan dan pertempuran meningkat, minyak berpotensi mencapai rekor tertinggi tahun ini.