Special Plan: Harta Karun Timur Tengah Rp85.000 T Terancam Menguap Terbakar Perang
Harta Karun Timur Tengah Rp85.000 T Terancam Menguap Terbakar Perang
Negara-negara di Teluk Arab mulai menguasai pasar global selama beberapa tahun terakhir. Berdasarkan laporan The Economist, dana kekayaan negara dari enam anggota Gulf Co-operation Council (GCC) — yang meliputi Bahrain, Kuwait, Oman, Qatar, Saudi Arabia, dan United Arab Emirates — mengelola aset melebihi US$5 triliun atau sekitar Rp85.000 triliun (US$1=Rp 17.125). Angka ini naik drastis dari US$3 triliun pada 2021.
Strategi Investasi untuk Masa Depan
Kelompok ini terus menyalurkan dana ke berbagai sektor internasional, termasuk teknologi AI, kredit perbankan swasta, properti, infrastruktur, dan klub sepak bola elit. Arus dana ini selama ini berperan sebagai pendorong transformasi ekonomi kawasan. Dengan menghadapi perlahan berkurangnya era bahan bakar fosil, negara-negara penghasil minyak berusaha membeli peluang masa depan melalui investasi ke startup AI, pusat data, energi terbarukan, logistik, pelabuhan, tambang mineral kritis, hingga lahan pertanian di Afrika dan Asia.
Dana tersebut menjadi mesin pertumbuhan, memastikan ekonomi tetap berjalan meski pendapatan minyak berkurang.
Ujian dari Serangan Iran
Serangan balik Iran terhadap sekutu AS di wilayah tersebut dilaporkan merusak infrastruktur energi senilai US$25 miliar. Akibatnya, negara-negara Teluk diperkirakan harus menambah dana US$30-50 miliar untuk membangun jalur pipa baru, mengurangi ketergantungan pada Selat Hormuz yang vital bagi ekspor energi dunia. Selain itu, belanja pertahanan meningkat. Persediaan rudal, amunisi, dan sistem pertahanan udara harus diperkuat untuk menghadapi ancaman keamanan.
Ketika ekonomi domestik melambat akibat gangguan perdagangan dan eksportasi energi, kebutuhan dana negara otomatis bertambah. Dubai, misalnya, telah mengumumkan program stimulan bagi sektor usaha. Di tengah tekanan ini, dana kekayaan negara berpotensi menjadi sumber darurat.
Masalah Investasi yang Rumit
Durasi pandemi menyebabkan beberapa lembaga keuangan seperti Abu Dhabi Investment Authority dan Kuwait Investment Authority menarik dana masing-masing sebesar US$24 miliar dan US$25 miliar. Dana dari UAE serta Qatar juga menyuntikkan sekitar US$4 miliar ke maskapai nasional. Namun, struktur investasi mereka kini lebih kompleks dibanding masa lalu.
Lima tahun terakhir, sejumlah besar dana Teluk dialihkan ke aset tidak likuid. Contohnya, UAE dan Saudi Arabia menginvestasikan hampir US$140 miliar ke properti dan infrastruktur, sekitar US$80 miliar ke kredit perbankan swasta, serta puluhan miliar dolar ke startup AI dan pusat data. Aset semacam ini sulit dijual cepat, dan harga bisa turun jika dipaksa dilepas.
Peran Geopolitik dalam Investasi
Selain itu, investasi negara-negara Teluk sering terkait agenda geopolitik. UAE memiliki kepemilikan di tambang dan lahan pertanian di beberapa negara Afrika. Sementara Public Investment Fund Arab Saudi mendanai bisnis tambang di Brazil dan sektor pertanian di Asia Tenggara. Investasi semacam itu biasanya berakar pada hubungan antarnegara, sehingga sulit dibatalkan hanya karena kebutuhan dana jangka pendek.
Proyek Domestik yang Menghambat
Tekanan tambahan datang dari proyek ambisius dalam negeri. Mubadala, misalnya, membiayai ekspansi kawasan finansial Al Maryah Island dan perusahaan energi hijau Masdar. Namun, dengan menurunnya arus penerbangan, pariwisata, dan minat investor asing, dana dari bandara, hotel mewah, properti, hingga maskapai juga terganggu. Dividen yang biasa mengalir ke dana kekayaan negara ikut berkurang.
Di Arab Saudi, tekanan ini menyentuh proyek nasional. Pembangunan Mukaab sempat dihentikan pada Januari, sementara kontrak proyek Trojena dan The Line juga mulai dipangkas. Jika perlambatan ekonomi berlanjut, nilai investasi dana kekayaan negara berpotensi turun, dan target diversifikasi ekonomi bisa tertunda. Perang membuat dana kekayaan Teluk berada dalam dilema: uang yang sebelumnya digunakan membeli masa depan kini harus dialihkan untuk memperbaiki ekonomi lama, kilang, pipa, pertahanan, dan stabilitas fiskal.