Special Plan: Trump Ulangi Dosa Lama Amerika, Gagal Paham & Salah Hitung Soal Iran
Trump Ulangi Kesalahan Lama Amerika: Gagal Memahami Kebudayaan Iran
Jakarta – Strategi Amerika Serikat dalam perang melawan Iran kembali menunjukkan kesalahan lama yang tak kunjung berubah, sebagaimana diungkapkan dalam laporan The Economist. Penyebab utamanya adalah ketidakmampuan Washington mengenali pola pikir, nilai, serta perspektif dari pihak lawan. Hal ini mengulangi kegagalan sebelumnya dalam perang Donald Trump, yang dinilai terlalu optimis dalam menghitung hasil operasi militer terhadap Iran.
Kasus Kosovo: Bukan Hanya Trump yang Tidak Akurat
Pola kesalahan ini sebenarnya telah muncul sejak masa kepresidenan Bill Clinton. Pada 1999, AS dan NATO memprediksi bahwa serangan udara dapat mematahkan kekuasaan Slobodan Milosevic dalam tiga hari. Tujuannya adalah menghentikan aksi pembersihan etnis di Kosovo, wilayah bekas Yugoslavia. Namun, perang udara tersebut berlangsung selama 79 hari sebelum Serbia menyerah, di mana kekuatan militer NATO dianggap sebagai ancaman serius.
“Akar masalahnya adalah Amerika terlalu sering meremehkan faktor budaya saat menyusun strategi luar negeri maupun militer,” tulis Jeannie Johnson dan Matthew Berrett dalam makalah mereka yang diterbitkan pada 2011.
Kesalahan strategis serupa terulang di Afghanistan dan Irak. Para pemimpin AS cenderung memandang masalah luar negeri hanya sebagai target yang harus dihancurkan, tanpa memahami dimensi sosial, politik, dan budaya di sana. Hal ini membuat mereka tidak mampu mengantisipasi reaksi yang berbeda dari pihak lawan.
Kebiasaan Militer: Berani Mengancam, Tapi Kurang Memahami
Sejak dulu, para presiden AS sering menyampaikan pesan kepada pasukan mereka bahwa musuh harus segera ditumbangkan. Mereka mengatakan bahwa meski lawan belum menyerah, serangan terus dilakukan untuk melemahkan mereka. Di sisi lain, militer AS juga menekankan kekuatan teknologi dan kemampuan operasionalnya, yang dianggap sebagai keunggulan dibanding negara lain.
Ketika perang yang diharapkan berakhir cepat justru memakan waktu lama, data operasional militer tidak lagi cukup untuk menyembunyikan miskalkulasi. Jembatan dan kilang minyak, yang sebelumnya dianggap sebagai sasaran strategis, justru berperan dalam menjaga stabilitas lawan. Kesalahan ini mengingatkan bahwa kegagalan memahami kebudayaan lawan adalah kebiasaan yang terus berulang.
Upaya Pemecahan Masalah: Dari Kebudayaan ke Strategi
Johnson dan Berrett, dua mantan pejabat CIA, menggali masalah ini lebih dalam melalui makalah Cultural Topography. Mereka menyoroti bahwa perencana militer AS sering kali mengabaikan pengaruh kehormatan dan harga diri dalam membangun rencana tindakan. Sebagai contoh, dalam perang Kosovo, Serbia justru merasa menang karena mampu bertahan melawan kekuatan besar.
“Para pembuat kebijakan seharusnya lebih dulu bertanya, apakah kebijakan luar negeri yang diinginkan memaksa negara lain mengubah aspek mendasar dalam budaya atau cara berpikir mereka?”
Untuk mencegah kesalahan serupa, mereka mendirikan Centre for Anticipatory Intelligence di Utah State University. Tujuannya adalah melatih intelijen AS memetakan karakter budaya sebagai bagian dari analisis ancaman dan peluang. Meski kebiasaan ini bukan baru, kini Trump menjadi contoh yang lebih menonjol karena gaya berpikir impulsif dan ancaman kasar yang ia luncurkan.