Special Plan: Vietnam Berambisi Jadi Penguasa “Dapur Dunia”, RI Gigit Jari

Vietnam Berambisi Jadi Penguasa “Dapur Dunia”, RI Gigit Jari

Vietnam menunjukkan ambisi kuat untuk menjadi salah satu pusat produksi pangan global. Pada tahun 2025, nilai ekspor sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan mencapai US$70,09 miliar, setara Rp 1.198,54 triliun. Angka ini meningkat 12% dibandingkan tahun 2024 dan melampaui target pemerintah yang sebesar US$65 miliar. Sementara negara Asia lainnya masih mengandalkan industri manufaktur, Vietnam berupaya menjadikan pangan sebagai sumber devisa utama.

Ekspor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan Meningkat

Ekspor Vietnam terbagi ke dalam beberapa kategori. Produk pertanian mendominasi dengan kontribusi US$37,25 miliar, diikuti oleh kehutanan sebesar US$18,5 miliar, serta perikanan sekitar US$11,32 miliar. Sementara itu, sektor peternakan, input produksi, dan garam menyumbang jumlah yang lebih kecil, yaitu US$628 juta, US$2,38 miliar, dan US$12,1 juta masing-masing. Ketergantungan pada satu komoditas atau musim panen terhindarkan karena adanya 10 kelompok barang yang masing-masing mencapai nilai ekspor lebih dari US$1 miliar.

Kebijakan Pemerintah dan Strategi Ekspor

Kenaikan ekspor ini bukan hasil kebetulan. Pemerintah Vietnam aktif mendorong keterbukaan perdagangan, mengurangi hambatan teknis, serta mempercepat proses sertifikasi. Ribuan kode produksi diterbitkan untuk memastikan produk bisa masuk ke pasar internasional. Dalam dunia ekspor modern, dokumentasi seringkali sama pentingnya dengan kualitas hasil panen.

Konversi Produk dan Peningkatan Nilai

Vietnam mengubah pendekatan pemasaran. Dulu fokus pada volume, kini perhatian bergeser ke nilai tambah. Contohnya, kopi yang sebelumnya ekspor dalam bentuk biji mentah kini berkembang ke produk seperti kopi roasted, instan, hingga specialty coffee. Proses panjang ini meningkatkan margin keuntungan. Perubahan serupa terjadi pada lada, di mana meskipun volume ekspor turun 1,2% menjadi 247.482 ton, nilai ekspor melonjak 26% hingga US$1,66 miliar. Harga lada hitam naik 36,2% ke US$6.607 per ton, sementara lada putih mencapai US$8.629 per ton dengan kenaikan 33,6%.

Peta Pasar yang Luas

Pembeli lada Vietnam tersebar ke berbagai negara. Amerika Serikat tetap menjadi pelaku utama dengan 55.082 ton, atau 22,3% dari total ekspor. Diikuti oleh Uni Emirat Arab (22.232 ton), Tiongkok (19.923 ton), India (12.499 ton), dan Jerman (11.820 ton). Distribusi pasar ini mengurangi risiko ketergantungan pada satu negara. Vietnam juga tetap berperan sebagai pusat pengolahan dan re-ekspor, bukan hanya produsen bahan baku.

Kompetisi dengan Indonesia

Indonesia, di sisi lain, masih kalah jauh. Menurut BPS, nilai ekspor sektor pertanian, kehutanan, dan perkebunan pada 2025 hanya mencapai US$6,88 miliar, atau sepuluh kali lebih kecil dari Vietnam. Komoditas terbesar adalah kopi, dengan kontribusi US$2,5 miliar. Perbandingan ini menegaskan perbedaan strategi antara kedua negara.

Kebijakan pengolahan dan promosi di Vietnam telah membentuk fondasi kuat, tetapi tantangan tetap besar. Banyak pelaku usaha mengeluhkan ketidakseragaman bahan baku, termasuk ukuran, tingkat kematangan, residu pestisida, dan standar logistik.

Untuk mempertahankan pasokan industri, Vietnam juga melakukan impor lada sebanyak 42.688 ton senilai US$266,2 juta. Sumber utama berasal dari Brasil, Kamboja, dan Indonesia. Dengan strategi standardisasi, hilirisasi, dan promosi yang konsisten, label “dapur dunia” bukan hanya slogan. Ini bisa menjadi mesin devisa baru di Asia Tenggara.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *